
(Foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – HeHa Sky View kembali menggelar perayaan malam pergantian tahun bertajuk HEHA HORE 2026 dengan konsep berbeda. Tanpa pesta kembang api, destinasi wisata unggulan di perbukitan Patuk, Gunungkidul ini tetap menghadirkan suasana meriah melalui pelepasan sekitar 1.000 light balloon yang diterbangkan secara bersamaan oleh seluruh pengunjung sebagai simbol doa, harapan, dan empati untuk korban bencana di Sumatra.
Direktur Utama HeHa Sky View, Rio Handoyo Mawardi, mengatakan HEHA HORE 2026 dikemas lebih bermakna dengan mengedepankan kesadaran sosial dan keamanan lingkungan.
“HEHA HORE 2026 kami hadirkan dengan konsep yang berbeda, lebih bermakna dan berkesadaran sosial. Tanpa kembang api, momen countdown kami tandai dengan pelepasan seribu light balloon sebagai simbol doa dan harapan menyambut 2026, sekaligus bentuk empati bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatra,” ujar Rio kepada wartawan disela-sela acara, Rabu 31 Desember 2025 malam.
Ia menjelaskan, penggantian kembang api dengan balon menyala dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah, meskipun penjualan tiket telah dilakukan sebelum aturan tersebut diumumkan.
“Kami tetap ingin menghibur masyarakat dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Karena itu, kami mengganti kembang api dengan light balloon. Balon ini kami nilai lebih rendah risiko dan tidak melibatkan unsur api,” katanya.
Menurut Rio, light balloon memiliki makna simbolis sebagai representasi doa dan harapan agar tahun 2026 menjadi lebih baik. Jumlah seribu balon dipilih untuk melambangkan banyaknya doa yang dilangitkan bersama.
“Kami menyadari ada sebagian pengunjung yang kecewa karena tidak ada kembang api. Namun kami menghormati keputusan pemerintah dan tetap berupaya memberikan pengalaman yang berkesan,” ucapnya.
HEHA HORE 2026 berlangsung mulai pukul 18.00 hingga 01.00 WIB dan dikemas dalam bentuk konser berskala terbatas. Sejumlah musisi Tanah Air turut memeriahkan acara, di antaranya Ngatmombilung, Orkes Pensil Alis, Romanticoustic, Mendadak Karaoke, Jeyma Monica & Acoustic, serta Dictionary Band, yang menghadirkan suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Lebih lanjut, dari sisi jumlah pengunjung, Rio mengakui terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kami menyadari ada penurunan, tapi itu sudah terduga. Faktor ekonomi dan cuaca juga sangat memengaruhi. Ke depan, strategi kami adalah terus beradaptasi dan berinovasi agar HeHa Sky View tetap menjadi one stop destination wisata,” jelasnya.
Sementara itu, General Manager HeHa Sky View, Nur Wijayanti, menyampaikan bahwa HEHA HORE 2026 merupakan gelaran keempat dengan nama yang sama. Tahun ini, kapasitas pengunjung yang diizinkan mencapai 2.000 orang.
“Hingga malam hari, pengunjung yang masuk masih sekitar 400 sampai 500 orang. Komposisinya sekitar 50-50 antara wisatawan lokal DIY dan luar daerah,” kata Nur.
Menurutnya, absennya kembang api memang berpengaruh terhadap minat kunjungan, namun kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Yogyakarta.
“Ketiadaan kembang api membuat sebagian masyarakat masih wait and see. Namun secara umum, perayaan malam tahun baru di Yogyakarta tahun ini memang tanpa pesta kembang api,” tuturnya.
Antusiasme Pengunjung
Antusiasme pengunjung tetap terlihat saat ribuan balon menyala diterbangkan bersama saat hitung mundur menuju 2026. Ike, mahasiswi UMY asal Jambi yang datang bersama temannya, Putri dan Windi, mengaku menikmati pengalaman tersebut.
“Ya, bagus banget. Seru juga. Light balloon itu seru banget sih,” katanya.
Ia berharap tahun depan membawa kabar baik bagi dirinya dan teman-temannya.
“Harapan kita di tahun depan semoga bisa wisuda dan keterima profesi sesuai jurusan kita. Dan semoga bisa balik lagi ke sini,” ucap Ike.
Meski tanpa kembang api, antusiasme tetap terasa.
“Walaupun enggak ada kembang api, tapi tetap seru. Trompetnya bikin rame banget,” ucapnya.
Senada, Yanti, wisatawan asal Wonogiri, yang memilih menghabiskan malam tahun baru di HeHa Sky View hingga pergantian tahun.
“Walaupun wisata ini baru lima tahun, tapi pemandangannya bagus, dekat dengan alam. Makanya saya menghabiskan malam tahun baru di sini,” ujarnya.
Menurutnya, pelepasan balon justru menghadirkan makna yang lebih mendalam.
“Ya berdoa semoga di tahun 2026 ini akan lebih baik lagi dari tahun sebelumnya, lebih berkah untuk semua,” katanya.
Ia mengaku mengetahui berbagai event di HeHa Sky View dari rekomendasi anaknya.
“Dari anak saya, kebetulan dia kuliah di Undip Semarang. Katanya, ‘ke HeHa aja Mak, bagus,” tutur Yanti.
Kemudian, Arinadi Nur, wisatawan asal Jogja mengaku menikmati malam tahun bersama di perbukitan Patuk Gunungkidul untuk menikmati cahaya lampu kota atau city light.
“Ya saya di HeHa Sky View ini menikmati city light, sekalian merayakan tahun baru bersama,” ujarnya.
Untuk pertama kalinya, dia mengaku takjub bisa melihat cahaya atau lampu kota Yogyakarta dari perbukitan. Meskipun saat datang cuaca DIY sejak siang turun hujan.
“Ya bahagia, bisa berlibur ke Jogja. Karena saya juga suka outdooor liburannya,” tandasnya.









