
Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM – Venezuela masih menghadapi ketidakpastian ekonomi meski Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengambil alih sebagian pengelolaan negara. Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., menilai dampak ekonomi pasca-invasi belum dapat dipastikan dan masih berada dalam wilayah abu-abu.
Faris mengatakan bahwa sektor minyak sebagai faktor kunci yang menentukan arah pemulihan ekonomi Venezuela. Selama ini, negara tersebut sangat bergantung pada industri minyak yang menyumbang sekitar 90 persen pendapatan nasional. Namun, rencana AS untuk mengambil alih operasi minyak dinilai masih sarat ketidakjelasan.
“Ketika Amerika Serikat menyampaikan akan running the country dan mengambil alih operasi minyak, itu masih sangat ambigu. Pertanyaannya, apakah manfaat ekonomi tersebut akan sepenuhnya kembali ke Venezuela, atau justru lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan Amerika,” ujarnya, Senin (5/1/2026)
Guru Besar Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UMY ini juga mengingatkan bahwa krisis ekonomi Venezuela tidak bisa dilepaskan dari peran AS di masa lalu. Kebijakan blokade dan pembatasan ekspor minyak yang diberlakukan AS sebelumnya telah memperburuk kondisi fiskal Venezuela, mengingat minyak merupakan tulang punggung anggaran negara.
Di sisi lain, Faris mengakui ada sebagian masyarakat Venezuela yang menyambut langkah AS. Hal ini terkait persepsi publik terhadap rezim Presiden Nicolás Maduro yang dianggap otoriter dan gagal mengelola perekonomian.
“Sebagian masyarakat Venezuela meyakini kehadiran Amerika Serikat bisa membawa perbaikan ekonomi, karena kondisi ekonomi di bawah pemerintahan Maduro memang sangat memprihatinkan,” kata Faris.
Faris juga menekankan bahwa harapan tersebut belum tentu sejalan dengan realitas kebijakan ekonomi yang akan dijalankan pasca-invasi. Hingga kini, belum ada jaminan bahwa pengambilalihan peran negara oleh AS benar-benar akan mengutamakan kepentingan ekonomi Venezuela.
“Pertanyaan besarnya adalah apakah Amerika Serikat sungguh-sungguh ingin memperbaiki ekonomi Venezuela, atau justru lebih fokus mengamankan kepentingan ekonominya sendiri, terutama di sektor energi,” jelasnya.
Menurut Faris, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa invasi AS akan berdampak positif bagi pemulihan ekonomi Venezuela. Arah ekonomi ke depan akan sangat ditentukan oleh kebijakan konkret di lapangan, bukan sekadar narasi politik di ruang publik.
“Situasinya belum bisa dipastikan apakah akan membaik atau justru memperpanjang krisis. Yang jelas, kondisi ekonomi Venezuela saat ini masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








