
Deklarasi Jeron Benteng sebagai Kawasan Rendah Emisi (KRE) di Plaza Ngasem (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) mendeklarasikan Gerakan Kawasan Rendah Emisi (KRE) di kawasan Jeron Beteng, Kota Yogyakarta, meski kegiatan berlangsung di tengah hujan. Deklarasi ini menjadi upaya mendorong kesadaran publik terhadap pengembangan kawasan berkelanjutan dan rendah karbon yang tetap selaras dengan nilai budaya serta karakter kawasan heritage.
Perwakilan Pustral UGM, Ir Ikaputra, mengatakan Jeron Beteng dipilih karena secara historis telah menerapkan prinsip kawasan rendah emisi sejak lama. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan filosofi Keraton Yogyakarta yang ramah lingkungan dan minim polusi.
“Kalau kita masuk kompleks Kraton atau Cepuri, tidak ada kendaraan bermotor yang masuk. Semua berjalan kaki, tidak ada kebisingan, kita bisa mendengar kicauan burung. Itu praktik rendah emisi yang sudah dilakukan sejak zaman dulu,” ujarnya, di Pasar Ngasem, kompleks Jeron Benteng Kota Yogyakarta, pada Minggu 1 Januari 2026.
Dalam rangkaian deklarasi tersebut, Pustral UGM juga menggelar kegiatan walking tour dengan pergantian moda transportasi ramah lingkungan. Peserta diajak menggunakan becak listrik, angkutan umum Sitole, hingga berjalan kaki mengelilingi kawasan Jeron Beteng.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wisatawan maupun warga untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Sehingga, Ikaputra menilai kebiasaan sederhana dapat memberikan dampak besar bagi pengurangan emisi di kawasan padat.
“Mulai berpikir sederhana, parkir susah dan mahal, kenapa tidak pakai moda lain. Ide-ide kecil ini yang ingin kami dorong,” tuturnya.
Menurutnya, Jeron Beteng dipilih setelah kawasan Malioboro lebih dulu berkomitmen sebagai kawasan rendah emisi dan ramah pejalan kaki.
“Pengembangan jalur pedestrian di Malioboro sejak 2015 disebutnya sebagai contoh keberhasilan penataan kota yang berorientasi pada manusia dan lingkungan,” tandas Ikaputra.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti mengatakan penerapan Gerakan Kawasan Rendah Emisi di Jeron Beteng akan dilakukan secara bertahap dan membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Keraton Yogyakarta sebagai pemilik wilayah.
“Ini akan diawali dari pengurangan emisi karbon, seperti yang sudah dilakukan di Malioboro. Kita lihat sendiri, kemacetan di Jeron Beteng terjadi karena banyak kendaraan pribadi yang masuk,” ujarnya.
Menurut Erni, pembatasan kendaraan bermotor tidak akan langsung melarang aktivitas warga, melainkan dilakukan melalui pengaturan dan pembatasan akses kendaraan pribadi ke dalam kawasan. Sosialisasi kepada masyarakat dinilai menjadi kunci agar tujuan kawasan rendah emisi dapat dipahami bersama.
“Pengurangan emisi karbon itu akan menyehatkan kita. Polusi berkurang, lingkungan menjadi lebih nyaman,” katanya.
Ia juga menyebut ke depan kendaraan berbahan bakar BBM, seperti becak motor dan kendaraan wisata bermotor, tidak akan diperkenankan masuk ke kawasan rendah emisi. Kebijakan serupa juga akan diterapkan di Malioboro yang ditargetkan menjadi kawasan full pedestrian pada 2026.
“Semua ini butuh sinergi. Tidak hanya pemerintah daerah, tapi juga Kraton, kepolisian, dan masyarakat. Tanpa dukungan bersama, kebijakan ini tidak akan berjalan,” pungkas Erni.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








