
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM – Pemerintah tengah merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai salah satu sumber ketenagalistrikan nasional yang strategis, berjangka panjang, dan berkelanjutan. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemanfaatan teknologi nuklir ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.
Namun, percepatan hingga 2029 memungkinkan jika seluruh prasyarat regulasi, teknologi, dan kelembagaan dapat terpenuhi. Kapasitas pembangkit nuklir juga direncanakan meningkat bertahap hingga 35 gigawatt, yang diperkirakan bisa menyuplai sekitar 14 persen kebutuhan energi nasional.
Menanggapi rencana ini, Prof. Andang Widi Harto, Dosen Bidang Reaktor Maju Pembangkit Daya dari Fakultas Teknik UGM, menekankan pentingnya tiga tahapan untuk merealisasikan pembangunan PLTN.
Tahapan pertama, menurut Andang, dimulai dengan pemanfaatan teknologi nuklir yang sudah ada, sekaligus melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) untuk menghasilkan desain baru yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Kita ingin suatu saat bisa mandiri secara teknologi, jadi R&D bisa dimulai bersamaan dengan tahapan awal,” ujarnya, Jumat 13 Februari 2026.
Tahapan kedua, kata dia, melibatkan kesiapan regulasi, penguatan kelembagaan, kepastian investasi, serta pengembangan riset dan sumber daya manusia. Andang menekankan bahwa UGM, sebagai satu-satunya Program Studi Teknik Nuklir di Indonesia, memiliki peran penting dalam mempersiapkan SDM, khususnya untuk persiapan, kelayakan, dan pengawasan PLTN.
“Kita bisa mempersiapkan operator yang mengawasi bagian teknisi nuklirnya. Kemudian kita juga bisa memberikan semacam training pengetahuan dasar atau konsultasi mengenai nuklir,” jelasnya.
Tahapan ketiga berkaitan dengan pengelolaan limbah radioaktif, yang menjadi perhatian utama dalam pengoperasian PLTN. Menurut Andang, limbah radioaktif saat ini sudah dikelola dengan sistem penanganan yang ketat dan terkontrol, namun tantangan terbesar adalah umur limbah yang bisa mencapai ribuan tahun, sehingga memerlukan penyimpanan aman jangka panjang.
“Limbah radioaktif PLTN sudah ditangani. Semua limbah diwadahi dalam kontainer. Tantangannya adalah bagaimana kontainer tersebut bisa bertahan sampai ratusan tahun dan tidak rusak,” terangnya.
Selain itu, Andang menyebutkan bahwa teknologi daur ulang limbah aktif untuk solusi jangka panjang sudah ada secara konsep dan teori, meskipun masih dalam tahap pengembangan dan belum siap digunakan secara komersial.
“Teknologinya memang belum siap pakai, tetapi secara konsep dan teori sudah ada dan sebenarnya bisa terus dikembangkan,” ujarnya.
Kendati begitu, Andang menegaskan bahwa pengembangan PLTN di Indonesia tidak bisa dilakukan secara instan. Namun, kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat membuka peluang bagi energi nuklir sebagai sumber energi rendah emisi yang stabil.
Sehingga, dengan perencanaan matang dan pengelolaan risiko yang terkendali, menurutnya, pengembangan PLTN dapat menjadi kesempatan untuk membangun kemandirian teknologi Indonesia di masa depan.
“Risiko pasti ada. Tapi, secara teknologi kita sudah bisa mengatasi itu,” pungkas Andang.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








