
WARTA-JOGJA.COM, KULON PROGO, DIY – Semangat kemenangan Idul Fitri masih terasa hangat di Kalurahan Tawangsari. Pada Jumat (27/03/2026), Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Pengasih menggelar kegiatan Syawalan bersama para kader kesehatan di Aula Tawangsari. Acara dihadiri oleh seluruh kader se-Kalurahan Tawangsari serta Kamituwa Tawangsari, Kartini.
Kegiatan ini tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum untuk penguatan nilai spiritual dan hubungan sosial bagi para penggerak masyarakat di tingkat kalurahan.
Dalam tausiyahnya, Penyuluh KUA Pengasih, Munawir, S.Ag., menyampaikan pesan mendalam mengenai filosofi silaturahim dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surat An-Nahl ayat 92 yang artinya, “Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali.”
“Silaturahim dalam trah persaudaraan adalah anugerah besar yang harus disyukuri dan dijaga. Jangan sampai hubungan yang sudah terjalin erat selama bertahun-tahun rusak hanya karena ego sesaat,” ujar Munawir.
Ia menekankan bahwa silaturahim termasuk amal yang memberikan balasan tidak hanya di akhirat, melainkan juga manfaat yang dirasakan langsung di dunia. Lebih lanjut, ia memaparkan enam pilar kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu:
1. Sedekah jariyah
2. Birrul walidain (berbakti kepada orang tua)
3. Menyambung tali silaturahim
4. Berlaku adil dan jujur meski dalam keadaan marah
5. Memaafkan di kala marah
6. Senantiasa berzikir dan beristigfar
Munawir juga mengingatkan bahwa memutus silaturahim tidak hanya berarti bermusuhan secara terbuka, melainkan juga mencakup sikap acuh tak acuh, tidak peduli, hingga membiarkan kerabat hidup susah padahal mampu membantu. Ia mengutip hadis yang menyatakan, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim (keluarga dan kerabat).”
Ditemui secara terpisah, Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H, S.H.I, M.S.I., memberikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan kegiatan ini. “Kami berharap Syawalan ini menjadi fondasi bagi para kader untuk terus bersinergi. Hubungan keluarga dan kerabat seringkali diuji oleh prinsip sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati. Meskipun wajib menjaga kehormatan keluarga dan hak kepemilikan tanah, jangan sampai hal itu menutup pintu islah atau perdamaian. Integritas dan kerukunan harus berjalan beriringan,” tegas Rangga.
Menutup acara, para hadirin diingatkan mengenai persiapan mudik bagi yang akan bepergian. Masyarakat diimbau untuk memastikan dua hal penting: bekal fisik berupa keamanan rumah yang ditinggal, serta bekal batin berupa amal ibadah dan keharmonisan keluarga.

🔶 Redaktur: Mawan







