
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Yayasan Kebaya Yogyakarta menggelar Pertemuan Stakeholder di Hotel Tara Yogyakarta, Selasa (7/4/2026). Acara ini bertujuan memperkuat kolaborasi dengan insan pers untuk melahirkan pemberitaan yang adil, inklusif, dan berperspektif kemanusiaan guna menghapus stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) dan komunitas transpuan.
Direktur Yayasan Kebaya Yogyakarta, Vinolia Wakijo, menegaskan bahwa stigma tidak hanya memengaruhi persepsi, tetapi juga menghambat akses layanan kesehatan, pekerjaan, dan kehidupan sosial kelompok rentan. Oleh karena itu, peran media dinilai sangat strategis dalam mengubah cara pandang masyarakat.
“Bukan hanya soal persepsi, stigma juga berpengaruh pada akses layanan kesehatan, pekerjaan, hingga kehidupan sosial. Media bisa menjadi kunci perubahan cara pandang ini,” ujar Vinolia.
Senada dengan itu, Project Manager sekaligus Pembina Yayasan, Rully Mallay, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal sinergi antara organisasi masyarakat sipil dan media. Ia berharap kolaborasi ini terus berlanjut dalam bentuk karya jurnalistik yang mendorong keadilan sosial.
Narasumber dari media, Shinta Maharani (Tempo), juga menekankan pentingnya jurnalisme yang berimbang dan non-diskriminatif. Menurutnya, berita memiliki kekuatan besar dalam membentuk ruang publik yang lebih inklusif.
Diskusi berlangsung interaktif dan dipandu oleh Dona dari Ikatan Waria Bantul (IWABA) serta Pram dari komunitas pendukung sebaya. Mereka memaparkan peran Yayasan Kebaya mulai dari pemberdayaan, advokasi hak, hingga penyediaan layanan shelter.
Melalui sinergi ini, Yayasan Kebaya optimistis perubahan narasi di media dapat memberikan dampak nyata, mulai dari meningkatnya pemahaman publik hingga terbukanya ruang keadilan sosial yang lebih luas.
🌐 Dilaporkan oleh LH

🔶 Redaktur: Mawan












