
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Pelaksanaan upacara adat Garebeg Besar tahun ini di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat akan berlangsung dengan suasana khidmat namun dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dan ringkas. Keputusan strategis telah ditetapkan, di mana seluruh rangkaian prosesi pembagian ubarampe pareden atau perlengkapan upacara, kini dipusatkan sepenuhnya di lingkungan dalam keraton dan penyebarannya hanya dikhususkan bagi para abdi dalem, tidak lagi melibatkan masyarakat luas seperti kebiasaan sebelumnya.
Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menjelaskan bahwa langkah penyederhanaan ini diambil bukan tanpa alasan. Kebijakan ini merupakan respons nyata terhadap kebutuhan penghematan di tengah kondisi ekonomi saat ini, sekaligus untuk menghindari kesan bermewah-mewahan atau berlebih-lebihan di saat banyak pihak juga harus menyesuaikan anggaran.
“Intinya untuk penghematan saja. Segala hal sekarang diarahkan untuk berhemat, begitu juga dengan kami. Secara psikologis pun hal ini penting, supaya tidak ada kesan berlebih-lebihan atau mewah-mewah di tengah situasi seperti ini,” ungkap Sri Sultan HB X saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (21/5/2026).
Beliau menegaskan bahwa semangat efisiensi ini sedang dijalankan secara serentak, baik oleh pemerintah pusat melalui penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun pemerintah daerah. Mengingat penyelenggaraan tradisi besar ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, maka penyesuaian skala kegiatan dianggap sebagai langkah paling tepat dan logis.
“Pemerintah pusat berhemat, daerah pun berhemat. Kami juga menyesuaikan, apalagi untuk kegiatan yang bebannya besar. Jika hanya memangkas hal-hal kecil, dampaknya tidak akan terasa signifikan,” tambahnya.
Meskipun sejumlah rangkaian acara dikurangi, Sultan menegaskan bahwa elemen budaya tertentu masih akan tetap dijaga keberadaannya. Sebagai contoh, dalam perayaan Sekaten mendatang, keberadaan prajurit keraton sebagai pengawal kemungkinan besar masih akan ditampilkan. Namun, bentuk perarakan besar seperti pengeluaran gunungan direncanakan untuk ditiadakan demi efisiensi yang sama.
“Misalnya nanti pada saat Sekaten, mungkin para prajurit masih kami minta untuk tetap mengawal. Tapi untuk acara yang melibatkan gunungan, kemungkinan besar ditiadakan. Tujuannya tetap sama, yakni penghematan,” jelasnya.
Format pelaksanaan kegiatan budaya ke depan pun dinamis dan tidak ditetapkan secara permanen. Sultan membuka peluang bahwa kemegahan dan kelengkapan prosesi adat dapat dikembalikan seperti semula, jika kondisi ekonomi masyarakat dan negara sudah membaik dan pulih sepenuhnya.
“Saya belum bisa memastikan kapan kembalinya. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Kalau keadaan ekonomi sudah lebih baik dan memungkinkan, maka bentuk lengkapnya akan kami munculkan kembali. Saat ini kita belum bisa menentukan waktunya,” ucap beliau.
Senada dengan arahan Raja, Abdi Dalem senior Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, membenarkan bahwa penyederhanaan ini adalah perintah langsung atau dhawuh dari Sri Sultan HB X. Ia menuturkan, pola pelaksanaan tahun ini menyerupai tata cara saat masa pandemi, di mana akses dan ruang lingkup kegiatan dibatasi.
“Benar adanya, kami para Abdi Dalem baru saja menerima perintah untuk menyederhanakan Garebeg, dimulai dari Garebeg Besar kali ini. Pelaksanaannya mirip saat masa pandemi dulu, semua pembagian perlengkapan adat hanya dilakukan di dalam keraton dan khusus untuk kami saja,” kata Kusumanegara.
Konsekuensi dari penyesuaian ini, sejumlah agenda pendukung yang biasanya meramaikan suasana turut dibatalkan. Tidak ada lagi gunungan yang diarak keluar, tidak ada iring-iringan prajurit yang melintas di jalanan, serta agenda seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik juga ditiadakan sepenuhnya. Tradisi tetap berjalan sebagai wujud pelestarian budaya, namun dibalut dengan prinsip sederhana, hemat, dan penuh makna.(*)









