Lansia Mbah Yoyok Sunaryo (67), warga RT 30 RW 7 Kampung Johoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM || YOGYAKARTA – Nasib memprihatinkan Yoyok Sunaryo (67), warga RT 30 RW 7 Kampung Johoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta. Lansia yang hidup sebatang kara dan sedang sakit parah ini harus kehilangan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah akibat adanya perubahan data desil.
Kondisi fisik Mbah Yoyok kian memprihatinkan sejak delapan bulan terakhir. Ia mengalami sakit yang membuatnya sulit berjalan, sehingga tak lagi sanggup bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal sebelumnya, ia menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan.
“Tak pikir gatel-gatel, wah alergi ngoten (ternyata alergi). Mbiyen kan nampi bantuan telur sama apa ya, beras (Dulu terima bantuan telur, beras, indomie). Saya bungah (senang) banget. Sekarang sini sakit (menunjuk bagian kaki) jadi agak susah jalan. Sekarang mending rada gampang,” Yoyok saat ditemui di kediamannya, Kamis 3 September 2026.
Ia juga mengaku pekerjaan yang paling nyaman baginya adalah mengasuh anak, namun aktivitas itu kini tak mungkin lagi dilakukan.
“Penggaweane kula riyin mblatrah. Kula teng Kepatihan (Kompleks Kepatihan) kula meh 7 tahun kok,” katanya.
Sebelum bantuannya mandek, Mbah Yoyok rutin menerima Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan beras, hingga bantuan tunai. Namun, pada pencairan periode Tahap 3 tahun ini, seluruh bantuan tersebut mendadak terhenti.
“Sekarang udah enggak (nerima),” ucap Yoyok.
Tetangga Mbah Yoyok, Sarti (43), mengungkapkan bahwa terhentinya bansos tersebut bermula dari kejanggalan data desil pada aplikasi pengecekan bansos. Saat diperiksa secara mandiri, nama Yoyok justru masuk ke dalam kategori desil tinggi atau dianggap mampu.
“Untuk Pak Yoyok ini desil 1, tapi untuk bansos dapat tidaknya itu menjadi kewenangan Kemensos,” katanya di lokasi.
Sarti menjelaskan, terjadi perbedaan informasi antara data di aplikasi bansos dengan keterangan dari petugas di lapangan. Hal inilah yang diduga membuat bantuan Mbah Yoyok tidak kunjung cair.
“Aku baru konfirmasi karo pendamping PKH, desil Pak Yoyok masih 1. Padahal di aplikasi bansos aku cek 6-10. Tapi tahap 3 ini belum masuk bantuannya PKH dan beras,” ungkap Sarti.
Sarti juga membeberkan bahwa Mbah Yoyok sebelumnya sempat menikmati bantuan pada awal tahun.
“Yang periode ini. Sempat dapat (tahun ini),” katanya.
Kondisi Yoyok terbilang sangat krusial dibandingkan warga lain. Selain tak lagi memiliki penghasilan dan ditinggal mati sang istri, Yoyok juga harus membayar biaya kontrakan rumah yang ditempatinya seorang diri.
Sarti menyebutkan, untuk makan sehari-hari, Yoyok kini sepenuhnya mengandalkan kebaikan warga dan warung di sekitar pemukiman.
“Yang ngopeni (ngasih) ya tetangga-tetangga, warung sini, depan. Kan dia enggak punya saudara,” tutur Sarti.
Mengenai konsumsi harian Mbah Yoyok, Sarti menyebut warga saling bergiliran membagi makanan hasil masakan rumah tangga mereka.
Meski sesekali masih menerima bantuan uang dari saudaranya, nominal tersebut jauh dari kata cukup untuk menutup biaya hidup dan sewa rumah.
Permasalahan lonjakan angka desil ini ternyata tidak hanya menimpa Mbah Yoyok. Sarti mengungkapkan ada lebih dari 10 warga di lingkungannya yang mengalami kasus serupa desilnya mendadak naik sehingga bantuan terputus.
Namun bagi Sarti, kasus Mbah Yoyok harus menjadi perhatian khusus karena menyangkut kelangsungan hidup seorang lansia non-produktif.
“Yang jelas kan biasanya dapat bantuan, enggak dapat. Kayak gitu-gitu kan. Banyak yang sini sama. Tapi ibaratnya kan bukan istilah kita kan masih produktif, jadi masih bisa usaha lah. Yang lansia itu yang kasihan,” tegasnya.
Ia pun mempertanyakan keakuratan sistem verifikasi data penerima bansos yang dinilai tidak sesuai dengan fakta sosiologis di lapangan.
“Kalau desil 6 sampai 10 kan dianggapnya masih mampu. Sedangkan pada kenyataannya kondisi Pak Yoyok sendiri seperti apa, mungkin?” ucap Sarti.
Atas kondisi tersebut, warga berharap Pemkot Yogyakarta maupun Kementerian Sosial segera melakukan evaluasi dan verifikasi faktual ke lapangan agar hak-hak masyarakat miskin dan lansia terlindungi.
“Ya ada perubahan lah, setidaknya ya sesuai faktane. Ibaratnya kayak gitu. Kan kasihan kayak gini, de’e (Mbah Yoyok) enggak bisa ngapa-ngapain,” pungkas Sarti.
Buatkan 4 pilihan Judul yang Kuat dan Relevan: Letakkan kata kunci utama di awal judul agar mudah dipahami oleh pembaca maupun mesin pencari.

Redaktur: Mawan

