WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Warga RT 02 Padukuhan Trowono A, Kalurahan Karang Asem, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, memperkuat kebersamaan dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau melalui pertemuan rutin warga yang digelar di kediaman Sugiono, yang akrab disapa Bapak Bagung, pada malam Jumat menuju Sabtu Pon, 2 Oktober 2026. Dalam pertemuan tersebut, warga membahas langkah menjaga ketersediaan air, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, serta rencana kerja bakti membersihkan telaga yang secara historis menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat Trowono A.
Pertemuan rutin kali ini memiliki nuansa berbeda karena tidak dilaksanakan di rumah Ketua RT sebagaimana biasanya. Putaran pertama kegiatan dilaksanakan secara bergilir di rumah warga. Pola tersebut diharapkan tidak hanya menjadi perubahan tempat berkumpul, tetapi juga memperluas ruang interaksi sosial sehingga hubungan silaturahmi dan kerukunan antarwarga semakin kuat.
Kepala Dukuh Trowono A, Suryono, dalam kesempatan tersebut menyampaikan sejumlah pesan penting kepada masyarakat terkait kondisi lingkungan memasuki musim kemarau. Ia mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama ketika melakukan pembakaran sampah di sekitar pekarangan.
Kondisi lingkungan yang cenderung kering selama musim kemarau membuat material mudah terbakar dan meningkatkan risiko api menjalar ke area lain. Karena itu, warga diminta memastikan api benar-benar padam setelah kegiatan pembakaran serta menghindari pembakaran sampah ketika kondisi lingkungan berpotensi memicu penyebaran api.
Selain kewaspadaan terhadap kebakaran, Suryono mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat dan bijaksana. Menurutnya, ketersediaan air bersih perlu dijaga bersama karena musim kemarau diperkirakan berlangsung cukup panjang. Efisiensi penggunaan air menjadi bagian penting agar kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi sampai musim hujan kembali tiba.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kepedulian masyarakat terhadap sumber daya air di lingkungan tempat tinggal. Pengelolaan air tidak hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga membutuhkan kesadaran bersama agar sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua RT 02, Teguh, menyampaikan rencana kerja bakti warga untuk membersihkan telaga yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber air andalan masyarakat Trowono A sejak masa lampau. Kegiatan tersebut direncanakan menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengoptimalkan kembali fungsi sumber air yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
“Telaga ini dulunya adalah sumber air utama bagi kebutuhan warga Trowono A. Dengan membersihkannya bersama-sama, kita berharap telaga ini dapat kembali berfungsi dan membantu menyediakan kebutuhan air bagi warga, terlebih di tengah musim kemarau yang panjang ini,” ungkap Teguh.
Rencana kerja bakti tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan air dihadapi warga melalui pendekatan gotong royong. Selain membersihkan lingkungan telaga, kegiatan bersama itu menjadi bentuk kepedulian masyarakat dalam merawat sumber daya yang memiliki nilai historis sekaligus manfaat bagi kehidupan warga.
Pertemuan rutin warga juga memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Pelaksanaannya secara bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya memberikan kesempatan kepada warga untuk menjadi tuan rumah sekaligus mempererat hubungan antarkeluarga di lingkungan RT 02. Interaksi yang terbangun dalam forum tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertukar informasi, menyampaikan persoalan lingkungan, serta mencari solusi atas kebutuhan bersama.
Kebiasaan bermusyawarah dalam lingkungan masyarakat menjadi modal sosial yang penting, terutama ketika warga menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan secara kolektif. Ketersediaan air, kebersihan lingkungan, maupun potensi kebakaran pada musim kemarau merupakan persoalan yang tidak cukup diselesaikan secara individual, melainkan membutuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat secara bersama-sama.
Semangat kebersamaan yang terlihat dalam pertemuan tersebut menunjukkan bahwa kerukunan warga bukan sekadar tradisi sosial, melainkan dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi persoalan lingkungan. Melalui komunikasi, kepedulian, dan gotong royong, masyarakat RT 02 Trowono A berupaya menjaga ketahanan lingkungan sekaligus mempertahankan hubungan sosial yang harmonis.
Dengan demikian, pertemuan rutin warga RT 02 tidak hanya menjadi agenda berkala untuk berkumpul, tetapi berkembang menjadi forum untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan dan kepentingan bersama. Di tengah tantangan musim kemarau, semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan masyarakat Trowono A untuk menjaga sumber air, mencegah potensi kebakaran, serta mempertahankan kerukunan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Redaktur: Mawan

