
WARTA-JOGJA.COM || KULON PROGO, DIY – Kebahagiaan Timbul (49), pengemudi bentor warga Kalurahan Lendah, berubah menjadi kekhawatiran mendalam saat anak sulungnya, Lucky, dinyatakan lulus seleksi jalur mandiri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Biaya masuk yang ditetapkan mencapai Rp 15 juta, padahal penghasilan harian Timbul tak menentu, hanya sekitar Rp 40–50 ribu bersih per hari.
Saat berupaya mengajukan keringanan biaya dan beasiswa melalui Program Indonesia Pintar (PIP) yang memerlukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Timbul justru mendapat kabar mengejutkan: status desil kesejahteraannya yang selama ini berada di kelompok 1–2 meloncat drastis ke desil 9 – golongan yang dianggap paling mampu. Padahal ia masih rutin menerima bantuan sosial, rumah yang ditempati pun bukan miliknya sendiri.
Kini Timbul bimbang: peluang keringanan biaya tertutup karena status desil yang berubah tanpa ia ketahui alasannya, sementara sisa biaya kuliah anaknya belum terbayar. Kisah ini menyoroti pentingnya akurasi data kesejahteraan masyarakat agar tidak merugikan warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Penulis: Jumiyo







