
Roro Wilis, mahasiswa S2 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Dunia pendidikan tengah menghadapi tantangan era Society 5.0, di mana transfer pengetahuan saja tidak cukup. Menjawab hal ini, Roro Wilis, menghadirkan inovasi dalam pembelajaran sejarah melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) di SMA Negeri 9 Yogyakarta.
Roro Wilis merupakan mahasiswa Program S2 Pendidikan Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menyoroti praktik pembelajaran sejarah yang selama ini masih dominan dengan ceramah dan hafalan.
“Pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada hafalan peristiwa, tetapi membantu siswa memahami makna dan relevansinya dengan kehidupan mereka hari ini,” ujarnya, Kamis (19/2/26).
Dalam tesis magisternya, Roro melakukan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi melibatkan guru sejarah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta siswa kelas X hingga XII.
Observasi awal dilakukan untuk memetakan praktik pembelajaran sejarah yang sudah berjalan. Hasil penelitian menunjukkan penerapan tujuh komponen CTL di SMA Negeri 9 Yogyakarta, yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik.
Menurut Roro, pendekatan ini memungkinkan siswa aktif membangun pemahaman melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dan pemanfaatan konteks budaya lokal sebagai sumber belajar. Praktik kontekstual yang diterapkan antara lain demonstrasi tradisi lokal, analisis arsip sejarah, kunjungan ke sumber belajar, serta produksi film dan vlog sejarah.
“Melalui kegiatan ini, siswa dapat mengaitkan masa lalu dengan realitas masa kini, sekaligus mengasah kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka,” jelas Roro Wilis, alumni SMAN 1 Pacitan.
Meski begitu, lanjut Roro Wilis, implementasi CTL tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan waktu dan kompleksitas proyek berbasis lapangan.
“Strategi manajemen waktu dan prioritas proyek menjadi kunci agar pembelajaran tetap selaras dengan prinsip CTL,” tegas Roro Wilis.
Selain memberikan kontribusi pada praktik pembelajaran sejarah yang lebih humanis, penelitian ini juga sudah dipublikasikan dalam beberapa jurnal terakreditasi dan book chapter kolaboratif. Prestasi akademik Roro pun mengesankan, dengan IPK sempurna 4,00 saat wisuda UNY periode Februari 2026.
“Ini bukan hanya pencapaian pribadi, tapi juga bukti bahwa pendidikan sejarah bisa lebih hidup dan bermakna jika dikaitkan dengan konteks nyata siswa,” pungkas Roro Wilis.

🟢 Redaktur: Mawan








