
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu 18 Februari 2026 sejak pukul 12.50 WIB menyebabkan puluhan titik kejadian bencana hidrometeorologi. Dampak yang ditimbulkan antara lain pohon tumbang, rumah rusak, akses jalan terganggu, hingga jaringan listrik dan wifi terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengatakan berdasarkan pantauan Pusdalops dan laporan Tim Reaksi Cepat (TRC), kejadian cuaca ekstrem terjadi merata di kabupaten/kota se-DIY.
“Berdasarkan pantauan Pusdalops se-DIY dan laporan TRC BPBD DIY, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat menyebabkan sejumlah kejadian pohon tumbang, kerusakan rumah, serta gangguan akses jalan di beberapa wilayah. Sampai saat ini nihil korban jiwa,” ujarnya dalam keterangan yang diterimanya, pada Rabu 18 Februari 2026.
Di wilayah Kota Yogyakarta, terdapat empat titik kejadian yang tersebar di Kemantren Ngampilan, Wirobrajan, Umbulharjo, dan Danurejan.
“Tiga pohon tumbang, satu dahan patah, dua akses jalan kampung terganggu, serta satu jaringan wifi terdampak,” kata Agustinus.
Di Kabupaten Gunungkidul, delapan titik kejadian dilaporkan terjadi di Kapanewon Wonosari, Semanu, Patuk, dan Playen. Dampaknya meliputi sembilan pohon tumbang, dua rumah rusak, dua akses jalan terganggu, satu jaringan listrik terdampak, serta satu kendaraan mengalami kerusakan.
Sementara itu, Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan titik kejadian terbanyak, yakni 25 titik yang tersebar di tujuh kapanewon: Kasihan, Sewon, Bantul, Sanden, Pleret, Jetis, dan Sedayu. Sebanyak 14 rumah dilaporkan rusak dan 12 akses jalan terganggu.
“Seluruh laporan yang masuk masih dalam proses penanganan dan pendataan. Data ini bersifat sementara dan dapat berubah sesuai pembaruan di lapangan,” ungkap Agustinus.
Sementara itu, hujan ringan hingga sedang disertai angin kencang juga melanda Kabupaten Sleman sekitar pukul 14.00 WIB. Laporan Pusdalops PB BPBD Sleman mencatat sejumlah kerusakan atap rumah dan kejadian tanah longsor di beberapa kapanewon.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, menyampaikan bahwa sebagian besar kejadian telah tertangani, meski beberapa titik masih dalam proses penanganan.
“Hujan yang disertai angin kencang mengakibatkan beberapa atap rumah rusak tertimpa pohon maupun terangkat angin. Petugas telah melakukan asesmen dan penanganan di lapangan, namun ada beberapa titik seperti talud longsor dan tanah bergerak yang masih dalam proses,” ujar Haris.
Di Kapanewon Berbah, tercatat sejumlah rumah mengalami kerusakan akibat pohon tumbang dan atap terangkat angin. Selain itu, talud Kali Tepus dilaporkan longsor dan belum sepenuhnya terkondisi.
Kejadian serupa juga terjadi di Gamping yakni pohon tumbang dan talud makam longsor, Kalasan terjadi tebing longsor, Minggir, Moyudan, Pakem, hingga Prambanan yang dilaporkan mengalami tanah bergerak dan longsoran tebing setinggi sekitar 10 meter yang menimpa bagian belakang rumah warga.
Di Kapanewon Sleman, pohon tumbang juga menimpa gazebo dan penginapan di kawasan Floating Resto, Jalan Rorojonggrang, Beran, Tridadi.
BPBD Sleman bersama unsur terkait seperti pemerintah kalurahan, relawan, TNI-Polri, dan komunitas siaga bencana telah melakukan asesmen, koordinasi, serta distribusi logistik darurat.
“Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dan angin kencang,” tegas Haris.
Hingga berita ini dinaikkan, tidak ada laporan korban jiwa akibat rangkaian kejadian tersebut. Pendataan hingga penanganan di sejumlah titik masih terus dilakukan.
“Upaya penanganan dilakukan seluruh jajaran BPBD DIY bersama unsur terkait seperti komunitas relawan untuk melakuman penanggulangan bencana hingga penanganan darurat,” pungkas Haris.

🟢 Redaktur: Mawan











