WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Paliyan menggelar kajian rutin Ahad pagi di Masjid Baturrochim, Kalurahan Karang Nduwet, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Minggu (11/10/2026). Kegiatan yang menghadirkan Ustadz H. Sugeng Prastyo, L.C., sebagai penceramah tersebut mengangkat pentingnya keikhlasan dalam bersedekah serta tiga amalan yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yakni amal jariyah, anak saleh, dan ilmu yang bermanfaat.
Kajian yang dimulai pukul 07.15 WIB itu diikuti jamaah dari berbagai wilayah di Kapanewon Paliyan. Selain menjadi sarana memperdalam pemahaman keagamaan dan mempererat silaturahmi warga Muhammadiyah, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penyaluran sedekah melalui LAZISMU Paliyan kepada anak-anak yatim dan lansia, pembagian sayur semulur, serta pemeriksaan kesehatan gratis bekerja sama dengan Puskesmas Paliyan.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya diwujudkan melalui penyampaian ajaran agama, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan pelayanan kesehatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Ketua PCM Paliyan Ajak Jamaah Menghargai Waktu
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua PCM Paliyan, H. Tijan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan jamaah agar senantiasa menghargai waktu dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Ia menyampaikan pesan:
“Manfaatkanlah waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu.”
Pesan tersebut mengingatkan pentingnya menggunakan waktu luang dan menjaga kesehatan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal kebaikan, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Menurut pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut, kesempatan yang dimiliki manusia tidak selalu berlangsung selamanya. Karena itu, jamaah diajak untuk tidak menunda-nunda perbuatan baik dan memanfaatkan kondisi sehat untuk memperkuat ibadah serta kepedulian sosial.

Setelah sambutan ketua PCM, kegiatan dilanjutkan dengan penyaluran bantuan sedekah dari LAZISMU Paliyan kepada anak-anak yatim dan para lansia yang berhak menerima.
Penyaluran bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial keluarga besar Muhammadiyah Paliyan terhadap masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan berlangsung tertib dan penuh kehangatan, sekaligus mengawali rangkaian kajian dengan praktik nyata nilai-nilai kepedulian dan berbagi.
Momentum tersebut sejalan dengan pesan utama kajian mengenai pentingnya menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama. Sedekah tidak semata-mata diukur berdasarkan besarnya nominal, tetapi juga dari ketulusan hati dan niat untuk mencari rida Allah SWT.
Dalam kajian inti yang dimulai pukul 07.15 WIB, Ustadz H. Sugeng Prastyo, L.C., mengajak jamaah untuk membiasakan diri bersedekah sesuai kemampuan masing-masing. Ia menekankan bahwa setiap orang dapat berbuat baik tanpa harus menunggu memiliki harta berlimpah.
Menurutnya, keikhlasan merupakan unsur penting dalam bersedekah. Pemberian yang nilainya tidak besar, tetapi dilakukan dengan tulus, memiliki makna yang mendalam dibandingkan pemberian yang disertai kesombongan atau keinginan untuk memperoleh pujian.
Dalam ceramahnya, ia mengangkat kisah pertemuan Nabi Isa a.s. dengan Nabi Khidir a.s. sebagai bahan pelajaran mengenai keikhlasan dalam bersedekah.
“Sedekah yang sedikit namun disertai keikhlasan jauh lebih bermanfaat dan lebih diridhai Allah SWT daripada sedekah yang banyak namun disertai rasa sombong atau pamer. Ibaratnya, sepohon biji kurma yang diberikan dengan tulus nilainya jauh lebih besar di sisi Allah.”
Pesan tersebut mengajak jamaah untuk menjadikan sedekah sebagai bentuk ibadah yang dilandasi ketulusan, bukan sekadar upaya menunjukkan kemampuan atau memperoleh pengakuan dari orang lain.
Dengan demikian, semangat berbagi diharapkan tumbuh sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap bantuan, sekecil apa pun, dapat menjadi sarana untuk memperkuat persaudaraan dan meringankan beban orang lain apabila diberikan dengan niat yang baik.
Pada bagian penutup materi, Ustadz H. Sugeng Prastyo, L.C., menegaskan tiga amalan yang dapat terus memberikan manfaat kepada seseorang setelah meninggal dunia. Pesan tersebut merujuk pada sabda Rasulullah SAW mengenai amal yang tidak terputus setelah manusia wafat.
Tiga amalan tersebut meliputi:
1. Amal jariyah
Amal jariyah merupakan kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan oleh orang lain. Bentuknya dapat berupa pembangunan sarana ibadah, penyediaan fasilitas pendidikan, bantuan sosial yang berkelanjutan, maupun kegiatan lain yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
2. Anak yang saleh
Anak yang saleh menjadi salah satu sumber kebaikan bagi orang tua melalui doa dan amal kebajikan yang dilakukannya. Karena itu, pendidikan agama, pembentukan akhlak, serta keteladanan dalam keluarga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang beriman dan berakhlak baik.
3. Ilmu yang bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat adalah pengetahuan yang diamalkan dan memberikan kebaikan kepada orang lain. Ilmu tersebut dapat diteruskan melalui pendidikan, dakwah, pembelajaran, serta berbagai bentuk pengabdian yang membantu masyarakat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
“Ketiga inilah yang akan terus menemani kita di alam akhirat kelak. Bangunan fisik akan rusak, harta akan diwariskan, namun ketiga amalan ini tidak akan pernah putus pahalanya,” tegas beliau.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Oleh sebab itu, umat Islam perlu mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal kebaikan, mendidik anak dengan nilai-nilai agama, serta membagikan ilmu yang dapat diamalkan oleh orang lain.
Usai kajian, panitia dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karang Nduwet membagikan sayur semulur kepada jamaah yang hadir. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat berbagi dan membangun kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.
Pada waktu yang bersamaan, PCM Paliyan bekerja sama dengan Puskesmas Paliyan menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga. Layanan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memeriksa kondisi kesehatan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan.
Kolaborasi antara kegiatan keagamaan dan pelayanan kesehatan ini memperlihatkan bahwa aktivitas dakwah dapat dikembangkan secara terpadu. Masjid tidak hanya menjadi tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar Muhammadiyah Paliyan berupaya menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.
Pada akhir kegiatan, keluarga besar PCM Paliyan dan PRM Karang Nduwet menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah, panitia, serta instansi terkait yang telah mendukung kelancaran acara.
Jamaah juga diajak untuk terus meluangkan waktu mengikuti kajian rutin Ahad pagi pada bulan-bulan berikutnya. Kehadiran dalam kegiatan pengajian diharapkan dapat memperkuat pemahaman agama, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kebiasaan melakukan amal kebajikan.
Kajian rutin PCM Paliyan di Masjid Baturrochim tersebut tidak hanya menjadi sarana penyampaian ilmu keislaman, tetapi juga menjadi momentum untuk menghidupkan nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui pesan tentang amal jariyah, anak saleh, dan ilmu yang bermanfaat, jamaah diingatkan untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan menanam kebaikan. Sedekah yang tulus, pendidikan keluarga yang baik, serta ilmu yang terus diamalkan menjadi bagian dari ikhtiar meninggalkan manfaat yang melampaui usia manusia.

Redaktur; Mawan

