
Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman, Akhmad Ritaudin (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Program Makan Bergizi (MBG) di Kabupaten Sleman tetap berjalan meski siswa sedang libur semester maupun libur Ramadan. Namun, mekanismenya disesuaikan agar lebih efektif dan tidak memberatkan orang tua.
Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman, Akhmad Ritaudin, menjelaskan bahwa selama masa libur, menu MBG dikemas dalam bentuk paket makanan kering yang dibagikan setiap tiga hari sekali.
“Tetap jalan tapi bentuknya goodie bag, di dalamnya biasanya ada telur asin, ada susu UHT. Sudah matang, biasanya ada roti, makanan kering,” ujarnya kepada wartawan saat ditemui di Rumah Dinas Bupati, Kamis 12 Februari 2026.
Ia menegaskan, menu yang diberikan bukan makanan basah agar tidak cepat basi. Paket dikumpulkan untuk tiga hari sekaligus sehingga orang tua tidak perlu datang setiap hari ke sekolah.
“Diganti kering yang tidak basi. Orang tua mengambil selama tiga hari. Jadi tiga paket dikumpulkan jadi satu, nanti kalau setiap hari orang tua mengambil juga repot,” kata Akhmad
Dengan pola tersebut, kata dia, meskipun sekolah libur, distribusi tetap dilakukan di sekolah dan orang tua mengambilnya secara berkala.
“Jadi meskipun libur tetap jalan tapi dikumpulkan di sekolah. Nanti tiga hari sekali baru dipaketkan,” ucapnya.
Menurut Akhmad, pola ini bukan hal baru. Skema serupa telah diterapkan pada Ramadan tahun lalu dan saat libur semester sebelumnya.
“Kalau yang kemarin juga seperti itu. Sekarang sudah masif dimulai dari libur semester kemarin. Ramadan juga polanya sama dengan semester satu,” ungkapnya.
Terkait kualitas menu, Dinas Pendidikan Sleman akan terus melakukan evaluasi agar isi paket tetap memenuhi prinsip gizi seimbang. Namun, ia mengakui pada libur sebelumnya ditemukan paket yang dinilai kurang variatif, seperti hanya berisi roti.
“Kami ingatkan jangan asal-asal roti lah, paling tidak ada telurnya, ada proteinnya, ada susunya, terus ada buah-buahnya yang tidak cepat basi. Biar gizinya seimbang,” tegas Akhmad.
Ia menilai, evaluasi dilakukan melalui pengawas sekolah dan tidak serta-merta dalam bentuk teguran keras. Dinas lebih mengedepankan pendekatan reflektif dan perbaikan bersama.
“Bukan langsung mencari kesalahan. Semuanya itu kan berproses, kita refleksi dulu, kita beri masukan. Lewat pengawas, bukan teguran, tapi kita refleksi yuk kalau makanan seperti ini untuk anak-anak itu gimana atau kurang apa-apa,” terang Akhmad.
Ia juga mengingatkan kepala sekolah agar tidak langsung menyalahkan pihak penyedia.
“Kita juga mengedukasi kepala sekolah jangan langsung frontal untuk menyalahkan. Semuanya didiskusikan, direfleksikan, dibenahi. Intinya pelayanan ke anak biar bagus, jangan saling menyalahkan,” ujarnya.
Lanjut Akhmad menyebut bahwa pola skema pengambilan tiga hari sekali itu sudah mendapat persetujuan orang tua. Ini karena pertimbangan banyak wali murid yang merasa keberatan jika harus datang setiap hari ke sekolah.
“Yang pertama walinya setuju, karena kalau mengambil setiap hari banyak wali yang keberatan. Terus tiga hari sekali. Berarti tiga hari terus dua hari karena kita lima hari,” jelasnya.
Akhmad menambahkan, pada pelaksanaan MBG di Sleman tidak diawasi seluruhnya secara langsung, melainkan melalui metode uji petik di sejumlah wilayah.
“Semuanya kami uji petik, tidak mengontrol semua. Tadi kami uji petik seperti di Tempel sama Mlati. Saya survei dulu seperti apa pelaksanaan MBG ketika libur semester satu kemarin,” ujarnya.
Untuk pengawasan, kata dia, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan pengawas sekolah, SPPG, serta pihak kapanewon (Panewu). Jika ada laporan dari sekolah terkait menu yang kurang sesuai, tindak lanjut dilakukan melalui jalur pengawas.
“Kami lewat pengawas sekolah sama SPPG dan juga Panewu selalu kolaborasi. Kalau ada laporan ‘Pak ini kok cuma roti kayak gini’, kami ke pengawas. Tapi pernah juga saya terjun langsung ke sekolah dan diskusi dengan SPPG. Alurnya tetap melalui pengawas sekolah,” jelas Akhmad.
Kendati demikian, evaluasi khusus saat Ramadan tahun lalu memang belum dilakukan secara menyeluruh. Namun pembenahan mulai ditekankan sejak evaluasi libur semester pertama.
“Kalau Ramadan dulu sementara itu belum ada evaluasi. Kami mengevaluasinya dari semester satu kemarin. Identifikasi, refleksi, benahi,” pungkas Akhmad.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








