
GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Sebagai upaya meningkatkan profesionalitas kinerja dan eksistensi Pemerintah Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, dalam mengisi kekosongan formasi jabatan Pamong Jogoboyo dan Staf mengadakan seleksi ujian berlangsung di SMKN 1 Girisubo, Rabu (24/9/2025).
Untuk merebutkan formasi jabatan Pamong dan Staf secara seleksi peserta yang lolos mengikuti ujian berjumlah 16 peserta.
Pimpinan Kalurahan Tileng, Lurah Suwardi, S.Pd., menyampaikan bahwa proses penjaringan kekosongan Pamong dan Staf dilaksanakan secara transparan, terbuka dan hasilnya kita umumkan berdasarkan nilai murni.
Adapun hasil seleksi adalah sebagai berikut:
🔵 Pamong Kamituwo: 6 peserta, lolos Linda Istiyawati dengan nilai 88,00.
🔴 Staf Jogoboyo: 4 peserta, lolos Hadid Hidayatullah dengan nilai 48,62.
🔴 Staf Pangrepto: 6 peserta, lolos Anggit Yudho Cahyono dengan nilai 60,50.
🔴 Staf Tata Laksana: 3 peserta, lolos Revita Nurcahyani dengan nilai 91,15.
Suwardi menegaskan, pihaknya bersyukur seleksi dapat berjalan aman, tertib, dan transparan.
“Kami mengucapkan terima kasih, seluruh rangkaian berjalan lancar dan tidak ada hal-hal yang mencederai proses. Ini murni hasil dari kerja keras para peserta,” tegasnya.
Menanggapi adanya isu sogokan atau stimulus yang pernah terjadi di Gunungkidul Lurah Suwardi mengatakan, terkait dugaan praktik sogokan yang kerap mewarnai seleksi pamong di beberapa wilayah Gunungkidul, Suwardi dengan tegas membantah,
“Tidak ada praktik semacam itu di Kalurahan Tileng. Selama saya menjabat lurah, ini sudah dua kali seleksi pamong dan saya pastikan kami menolak keras pemerasan atau jual beli jabatan. Semua teknis ada di tangan tim penguji, bahkan sejak malam sebelum tes mereka sudah dikarantina agar tidak ada intervensi,” jelasnya.
Awak media menyinggung adanya kasus di salah satu Kalurahan lain di Gunungkidul, yang hingga kini masih tersendat akibat dugaan praktik sogokan jual beli jabatan. Menanggapi hal itu, Suwardi menyatakan pihaknya akan menjadikan kasus tersebut sebagai pelajaran berharga.
“Bagi kami hal ini merupakan referensi, jangan kita tiru praktik seperti itu, sehingga kami berprinsip pengisian pamong harus bersih dan ikhlas, karena ini menyangkut masa depan pelayanan masyarakat,” tegasnya.
Kejadian seperti itu kita pernah mendengar, maka jangan sampai terjadi di Kalurahan Tileng, mengingat apa pun bentuknya kalau ada motif uang (sogokan) kita meyakini pasti akan ada kendala dikemudian hari.
Kalurahan Tileng mencoba membangun citra bersih dengan menolak praktik tersebut dan mengedepankan transparansi dalam setiap tahapan.
“Dengan langkah ini, publik diharapkan bisa menilai bahwa proses seleksi pamong di Tileng benar-benar murni berdasarkan kemampuan, bukan karena uang.” tutup Lurah.













