
🌐 YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Sejumlah warga eks Parkir Abu Bakar Ali (ABA) menggelar audiensi dengan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, guna menyampaikan keluhan dan aspirasi mereka terkait penataan kawasan Sumbu Filosofi, khususnya di kawasan Tugu hingga Titik Nol Kilometer. Mereka menilai hingga kini belum ada ketegasan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dalam menindak kendaraan besar, seperti bus wisata, yang masih melintas dan parkir di kawasan tersebut.
Ketua Paguyuban Warga ABA Yogyakarta, Agil Haryanto menegaskan bahwa warga tidak bermaksud membebani pemerintah, namun menuntut kejelasan dan ketegasan atas janji Pemkot sebelumnya.
“Kami datang bukan untuk membebani Pak Wali, tapi untuk meminta ketegasan. Dulu sudah dijanjikan kawasan Sumbu Filosofi, terutama dari Tugu ke selatan, tidak boleh dilewati bus besar. Tapi kenyataannya sampai hari ini seakan-akan dibiarkan. Kami ingin tahu ada apa sebenarnya,” ujar Agil dalam audiensi pada gelsr open house rutin walikota, pada Rabu 15 Oktober 2025.
Agil juga menyinggung nasib rekan-rekannya yang kehilangan mata pencaharian akibat penertiban parkir di kawasan ABA. Ia berharap Pemkot segera menata ulang kawasan agar tidak terjadi ketimpangan dan keresahan di kalangan warga terdampak.
“Kalau Pemkot tidak segera mengambil tindakan, ya dengan sangat hormat kami mohon izin untuk kembali berjualan di sekitaran Pos Gumaton (Tugu – Malioboro – Keraton). Kami sudah punya rancangan penataan agar tetap tertib,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengungkapkan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti sejumlah permintaan warga dan menyiapkan langkah konkret dalam penataan arus lalu lintas di sekitar Sumbu Filosofi.
“Waktu saya ke lapangan, saya putuskan tiga hal. Pertama, jalur bus dari timur (Gramedia) dibelokkan lewat Kridosono dan Menara Kopi. Kedua, halte Trans Jogja dibuat di depan Menara Kopi. Ketiga, zebra cross di bawah rel harus segera disiapkan,” jelasnya.
Hasto juga menyampaikan bahwa Dinas Perhubungan telah diberikan tenggat untuk menyelesaikan tiga poin tersebut dalam waktu dekat. Hasto juga berencana meninjau langsung perkembangan di lapangan pada akhir pekan ini.
“Hari Minggu saya ke sana, saya mau cek halte, zebra cross, dan kebersihan di bawah jembatan Kleringan. Sekaligus memastikan arus bus besar tidak lagi melintasi kawasan Tugu,” tegasnya.
Hasto menambahkan bahwa arah kebijakan Pemkot sejalan dengan arahan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X agar kawasan Sumbu Filosofi, termasuk Tugu dan Titik Nol Kilometer, steril dari kendaraan besar. Dalam waktu dekat, Pemkot akan mulai mengalihkan arus bus dari arah timur, diikuti dengan rekayasa lalu lintas dari arah barat setelah berkoordinasi dengan Satlantas dan pihak hotel.
“Kami minta waktu dua minggu untuk menyelesaikan rekayasa dari arah barat. Tapi prinsipnya, bus besar tidak boleh lagi parkir antara Tugu hingga rel kereta api,” ujarnya.
Agil pun menyambut positif rencana tersebut dan menyatakan telah berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) agar bus wisata diarahkan ke Menara Kopi sebagai titik penurunan dan penjemputan tamu.
“Kami sudah komunikasi dengan PHRI, dan mereka tidak keberatan. Mereka hanya minta space di Menara Kopi untuk penjemputan tamu hotel,” imbuh Agil.
Audiensi tersebut diakhiri dengan kesepakatan untuk melakukan peninjauan bersama pada Minggu mendatang di kawasan Menara Kopi sekitar pukul 09.00 WIB, sekaligus membahas solusi penataan dan pemberdayaan warga terdampak relokasi.
“Kami berharap apa yang waktu itu disampaikan Pemkot ya agar nanti bisa atensi pak wali kedepan. Karena kita bergantung ke pak wali, 5 bulan kami sudah tidak bekerja. Full 5 bulan. Jadi kami saya berharap pak wali bisa membantu kami, mempunyai tanggung jawab memenuhi kebutuhan sehari hari,” pungkas Agil.

🔴 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







