
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Menuju tahun ajaran baru 2025/2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) disambut dengan antusias tinggi oleh para siswa dan orang tua, pada Senin 14 Juli 2025. Sekolah berbasis asrama ini memberikan layanan pendidikan gratis ini kembali membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan berkualitas tanpa beban biaya.
Salah satu orang tua, Didik (45), seorang buruh supir harian lepas, mengaku sangat bersyukur anaknya dapat diterima di sekolah ini.
“Respon saya sangat bagus, sangat berbangga kepada pemerintah karena kami orang yang kurang mampu, anak kami bisa sekolah di sini, gratis lagi. Semua fasilitas disediakan oleh negara,” ujarnya dilokasi, Senin 14 Juli 2025.

Didik menyebut, pada proses seleksi masuk dilakukan dengan kerja sama antara pihak sekolah dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Kami masuk lewat pendamping PKH, jadi dari sekolah juga ada formulir, tapi PKH yang mengambil alih prosesnya. Setelah isi formulir, baru sekitar satu bulan kemudian diumumkan siapa yang diterima,” jelas Didik.
Terkait salah satu sistem asrama dengan jadwal pulang dua minggu sekali, Didik tidak mempermasalahkan. Ia justru mendukung penuh dan menyemangati anaknya agar bisa beradaptasi.
“Enggak masalah. Kita beri semangat ke anak. Kita juga diberi tahu boleh jenguk sewaktu-waktu, cuma di jam-jam tertentu yang tidak mengganggu jam pelajaran,” ujar salah satu warga Kotagede tersebut.
Kemudian, salah satu kisah yang menyentuh datang dari Rubiyem, seorang ibu tuna netra yang berprofesi sebagai pemijat bersama suaminya. Ia mengantar sendiri anaknya untuk masuk SRMA 19.
“Saya sangat terbantu dan merasa ringan. Ini anak saya awalnya enggak mau, tapi lama-lama mau. Meski saya dan suami tuna netra, Alhamdulillah kelima anak saya normal semua,” ungkapnya haru.
Ia mendapat informasi pendaftaran dari pendamping PKH dan mendaftarkan anaknya menggunakan mobil yang disediakan oleh program tersebut.
Lanjut Rubiyem berharap anaknya bisa mandiri dan memperoleh ilmu yang bermanfaat untuk masa depan.
“Saya pengen anak saya mandiri dan mendapat ilmu baru biar bermanfaat di masa depan. Sangat terbantu dan meringankan beban,” kata Rubiyem.
Semangat juga terpancar dari calon siswa baru, Dwi Sulistyo (16). Ia bahkan semangat mengumpulkan berkas-berkas pendaftaran yang meliputi KTP, KK, akte, serta Fotocopy tagihan PLN.
“Persiapannya juga dari mental karena jauh dari orang tua itu berat. Tapi saya niat mau jadi orang sukses dan ingin memutus rantai kemiskinan,” ucapnya.
Alasan Dwi memilih mendaftar ke SRMA 19 setelah mendapatkan informasi dari PKH.
“Sebelumnya saya mau masuk SMK biasa, tapi sejak tahu ada Sekolah Rakyat ini dan semua biayanya ditanggung pemerintah, saya langsung niat ke sini,” katanya.
Dengan latar belakang keluarga sederhana, yang mana ayahnya bekerja di sawah dan proyek bangunan, sementara ibunya telah tiada, Dwi ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalangi impian besar.
“Pertama kali dikasih undangan saya sudah minta izin sama orang tua, sudah bilang saya mau niat, saya mau menjadi orang sukses dan ingin membanggakan kepada orang tua. Dan saya juga ingin memutus rantai kemiskinan. Karena gimana ya ? Kalau orang miskin itu sama orang – orang itu dipandang rendah suka di hina,” pungkas Dwi.
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 DIY ini, menjadi bukti nyata upaya negara dalam menyediakan akses pendidikan setara dan berkualitas, terutama bagi keluarga pra-sejahtera.

Redaktur Mawan












