
Massa aksi unjuk rasa di Mapolda DIY (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Suara letusan terdengar di depan Markas Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Mapolda DIY) di Kota Yogyakarta, Selasa (24/2/2026) malam. Letusan tersebut terjadi saat aksi unjuk rasa yang digelar masyarakat di halaman Mapolda DIY berlangsung ricuh.
Sebelum terjadinya ledakan, massa aksi menuliskan beberapa kalimat sebagai bentuk kekecewaan kepada aparat. Tulisan itu antara lain “All Cops Are Bastard”, “Pembunuh”, hingga gambar tak senonoh.
Aksi tersebut dipicu kemarahan publik atas dugaan penganiayaan terhadap siswa berinisial AT (14) yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Brimob Polda Maluku, Bripda Mesias Siahaya.
Berdasarkan pantauan, massa mulai berkumpul sejak sore hingga malam hari sekitar pukul delapan lebih. Berbeda dari demonstrasi pada umumnya, aksi kali ini berlangsung tanpa panggung orasi maupun tuntutan tertulis. Massa bergerak secara organik dan menggelar salat gaib untuk para korban yang disebut sebagai korban kekerasan aparat.
Sekitar pukul 19.45 WIB, massa menyelesaikan salat gaib dengan dua shaf mendoakan almarhum AT. Namun situasi memanas ketika sebagian massa meneriakkan “pembunuh, pembunuh” dan berusaha masuk dengan menjebol pembatas di pintu gerbang sisi timur Mapolda DIY. Water barrier yang sebelumnya dipasang aparat turut dibongkar.
Salah satu peserta aksi, Yazi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk doa dan solidaritas bagi para korban.
“Kami mendoakan para korban yang menjadi korban kejahatan para polisi, termasuk Gamma, Afif dan Arianto, juga korban-korban demo Agustus yang ditangkap dan direpresi tanpa kejelasan,” ujarnya kepada wartawan di sela aksi.

Ia menegaskan bahwa massa tidak mengatasnamakan kampus tertentu, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang resah terhadap dugaan kekerasan aparat.
“Kami bukan hanya sebagai mahasiswa, bukan mengatasnamakan UGM atau siapa pun. Kami mengatasnamakan masyarakat. Kami resah dan muak dengan kelakuan para oknum polisi, atau mungkin bukan lagi oknum,” ucap Yazi.
Karena itulah, ia berharap adanya reformasi di tubuh kepolisian.
“Kami berharap polisi sadar bahwa mereka tidak bisa semena-mena terhadap rakyat. Polisi harus hadir sebagai garda pelindung masyarakat. Tidak boleh ada lagi korban dari rakyat, tidak boleh ada lagi korban dari demo,” tegas Yazi.
Desakan massa yang semakin kuat menyebabkan pintu gerbang sisi timur Mapolda DIY roboh. Aparat kemudian mengeluarkan dua kali letusan yang diduga gas air mata, masing-masing sekitar pukul 19.50 WIB dan 20.05 WIB, sebagai upaya membubarkan massa.
Letusan tersebut membuat massa berlarian menjauh dari gedung Mapolda DIY. Terdengar teriakan dari kerumunan, “Aku wong kene pak,” saat massa mundur dari lokasi.
Sekitar pukul 20.18 WIB, massa aksi mulai dapat dibubarkan. Empat menit kemudian, tepatnya pukul 20.22 WIB, arus lalu lintas di sisi barat kembali dibuka dan terpantau lancar.

🟢 Redaktur: Mawan












