
WARTA-JOGJA.COM || WONOSARI, GUNUNGKDUL – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memimpin langsung Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Daerah Tahun 2026. Kegiatan akbar yang diikuti sekitar 3.000 peserta ini berlangsung di Alun-Alun Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (22/8/2026), dengan mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”.
Kehadiran Tokoh dan Pimpinan
Upacara berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pimpinan lembaga, kepala daerah, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY dan Kabupaten Gunungkidul. Hadir secara langsung Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono, S.I.K., perwakilan Lanud Adisutjipto Kolonel Lek Kurniawan P. Yudhono, Komandan Lanal Yogyakarta Kolonel Laut (P) Hendra Siregar, A.Md., M.Tr.Opsla, serta pejabat terkait lainnya. Turut hadir Ketua Kwarda Gerakan Pramuka DIY GKR Hayu didampingi Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro, yang disambut oleh Kapolres Gunungkidul AKBP Damus Asa, S.H., S.I.K., M.H., Dandim 0730/Gunungkidul, Bupati Gunungkidul, beserta jajaran Forkopimkab setempat.
Amanat dan Makna Filosofis
Dalam amanatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan pemilihan Gunungkidul sebagai lokasi apel memiliki makna mendalam. Wilayah berkarakter tanah karst ini mengajarkan bahwa daya tahan hidup lahir dari ketekunan mengubah segala keterbatasan menjadi kekuatan nyata. Beliau juga mengaitkan pesan sejarah dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo tahun 1971, yang menegaskan Pramuka tidak hanya dibentuk menjadi warga negara yang baik, melainkan manusia pembangun yang handal.
“Dalam falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, manusia dipanggil untuk memelihara keselamatan dan keselarasan dunia. Diterapkan pada urusan pangan, falsafah ini mengajarkan agar tanah tidak dikuras serampangan, air tidak disia-siakan, dan petani tidak dibiarkan berjalan sendiri,” tegas Sultan di hadapan ribuan peserta.
.Dorong Nyata Lewat Lumbung Mataraman
Lebih lanjut, Gubernur mendorong seluruh elemen Pramuka DIY mengambil peran aktif dalam menguatkan konsep Lumbung Mataraman-sebuah reaktualisasi kebudayaan agraris yang menghidupkan pekarangan sebagai ruang produksi, keluarga sebagai simpul ketahanan pangan, dan kalurahan sebagai basis kemandirian melalui laku sederhana: mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan (memakan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan).
Melalui peringatan Hari Pramuka ke-65 ini, diharapkan seluruh anggota Gerakan Pramuka di DIY mampu memantapkan langkah organisasi serta menjadikan ketahanan dan swasembada pangan sebagai gerakan budaya sekaligus gerakan kebangsaan yang kokoh menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.









