
(Foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Puluhan ibu yang tergabung dalam Koalisi Suara Ibu Indonesia menggelar aksi bertajuk Kenduri dan Doa untuk Indonesia di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin 22 Desember 2025 sore. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa, terutama bencana yang melanda beberapa wilayah di Sumatera.
Dalam aksi itu, para peserta mengenakan pakaian putih, menabuh panci, dan membawa bendera putih sebagai simbol protes terhadap penanganan bencana yang dianggap belum memadai.
Mewakili massa aksi, Rika Iffati Farihah menekankan desakan agar pemerintah menetapkan bencana di Sumatera sebagai bencana nasional.
“Sebenarnya ada beberapa tuntutan utama. Yang pertama, kami mendesak pemerintah menetapkan bencana di Sumatera sebagai bencana nasional,” ujarnya kepada wartawan di sela aksi.
Selain itu, massa meminta pemerintah mengusut dugaan kejahatan ekologis yang diduga menjadi penyebab bencana. Menurut Rika, penanganan bencana tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan sebelumnya. Koalisi ini juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka meminta moratorium program tersebut dan pengalihan anggarannya untuk penanganan bencana.
“Dana MBG ini menyita banyak hal yang sebenarnya lebih penting. Banyak yang tidak tepat sasaran. Sekolah-sekolah swasta mahal juga mendapat MBG, padahal orang tuanya mampu. Ini pemborosan,” kata Rika.
Rika menilai pelaksanaan MBG selama liburan sekolah dinilai tidak efektif dan rawan pemborosan, karena orang tua tetap diminta mengambil jatah makanan untuk beberapa hari. Selain itu, kualitas makanan yang disediakan dianggap belum optimal, sebagian besar berupa makanan kemasan dan ultra processed yang berpotensi terbuang dan kurang bermanfaat bagi gizi anak.
Serta, ia menuntut penghentian intimidasi terhadap jurnalis, aktivis, dan relawan di lokasi bencana, serta meminta penanganan yang berpihak pada kelompok rentan seperti perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Kami akan terus mengawal isu ini. Sebagai ibu, kami memikirkan anak-anak kami dan anak-anak lain di seluruh Indonesia,” tegas Rika.
Aksi ini mendapat dukungan dari Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid. Menurutnya, gerakan ibu-ibu di Hari Ibu menjadi pengingat penting agar negara tidak kehilangan nurani dalam mengelola bencana.
“Gerakan ini luar biasa. Kita melihat bagaimana bencana sering diperlakukan hanya sebagai urusan angka, bukan urusan manusia dan alam,” ujarnya dilokasi yang sama.
Fathul juga menyoroti kebijakan MBG yang kurang sensitif terhadap situasi darurat bencana. Ia menilai anggaran seharusnya diarahkan lebih bermakna untuk membantu korban di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Dengan magnitudo kerusakan yang terjadi dan hujan yang masih terus turun, status bencana nasional sangat layak dipertimbangkan,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








