
Made Krisna Adi Jaya, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Farmasi UGM, berhasil menyelesaikan studi S3 dalam waktu 2 tahun 4 bulan 8 hari, (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencatatkan prestasi akademik melalui kelulusan doktor dengan masa studi tercepat. Made Krisna Adi Jaya, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Farmasi, berhasil menyelesaikan studi S3 dalam waktu 2 tahun 4 bulan 8 hari dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00.
Capaian tersebut jauh lebih singkat dibandingkan masa studi rata-rata jenjang doktor yang berkisar 4 tahun 6 bulan. Atas prestasinya, Krisna dinobatkan sebagai lulusan tercepat pada Wisuda Program Pascasarjana Periode II yang digelar Rabu 21 Januari 2026.
Krisna yang berprofesi sebagai dosen Farmasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Udayana, Bali, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan menempuh pendidikan doktoral bukan semata untuk kepentingan akademik atau profesional.
“Program doktoral memberi ruang bagi saya untuk menjembatani praktik kefarmasian dengan pengembangan evidence-based practice yang lebih sistematis,” ujarnya, Selasa 3 Januari 2026.
Dorongan tersebut kemudian diwujudkan melalui riset disertasi yang berfokus pada proses skrining hipoglikemia yang berkaitan dengan terapi obat. Dalam penelitiannya, Krisna menyoroti masih adanya ketidakakuratan dalam proses skrining pasien rawat jalan, khususnya pada penderita diabetes yang berisiko mengalami hipoglikemia berat akibat efek samping obat.
Melalui riset tersebut, Krisna menggagas pengembangan instrumen skrining risiko hipoglikemia berat yang diharapkan dapat membantu apoteker dalam mengidentifikasi pasien berisiko secara lebih sistematis dan aplikatif. Hipoglikemia sendiri merupakan kondisi kadar gula darah di bawah normal yang dapat berdampak serius bila tidak ditangani dengan tepat.
“Tujuan utama saya adalah menghadirkan solusi yang praktis, berbasis bukti, dan dapat langsung diimplementasikan untuk meningkatkan keselamatan pasien,” katanya.
Di tengah kesibukan sebagai akademisi dan tenaga profesional, Krisna mengakui bahwa menjaga keseimbangan antara studi, pekerjaan, dan kehidupan pribadi menjadi tantangan tersendiri selama menempuh pendidikan doktoral. Kompleksitas riset yang dijalani menuntut konsistensi serta manajemen waktu yang ketat.
“Kompleksitas riset, seperti pengembangan instrumen, validasi metodologis, hingga penerapan di lapangan menuntut konsistensi, ketelitian, dan manajemen waktu yang tinggi,” jelasnya.
Krisna juga menyebut dukungan dari Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemdikbudsaintek serta Universitas Udayana turut berperan dalam kelancaran studinya. Selain itu, komunikasi intensif dengan promotor dan ko-promotor, serta penguatan kemampuan metodologi dan analisis data dilakukan secara mandiri.
Menurutnya, capaian akademik tidak dapat dipisahkan dari nilai integritas dan tanggung jawab keilmuan.
“Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara jujur, bertanggung jawab, dan diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkas Krisna.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








