
Peringati Hari Pers Nasional 2026, Para Wartawan Senior Berziarah Makam wartawan Koran Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Tiga puluh tahun setelah wafatnya wartawan Koran Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, semangat dan keberaniannya dalam memperjuangkan kebenaran dinilai masih relevan bagi dunia pers, khususnya wartawan muda.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan ziarah ke makam Udin di Dusun Gedongan, Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul, Senin 9 Februari 2026. Ziarah itu dilakukan oleh sejumlah wartawan senior Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang dipusatkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mewakili wartawan senior, Sigit Purwita mengatakan, ziarah ini tidak sekadar mengenang sejarah perjalanan pers Indonesia, tetapi juga menjadi momentum untuk terus menyuarakan kebenaran yang telah diperjuangkan Udin hingga akhir hayatnya.
“Mas Udin bagi saya bukan sekadar teman, tapi ia adalah pahlawan dalam profesi wartawan,” ujarnya.
Menurutnya, keberanian Udin dalam menulis berita yang kritis terhadap kekuasaan pada masa Orde Baru merupakan bentuk keberanian luar biasa. Pengorbanan tersebut tidak hanya mempertaruhkan keselamatan fisik, tetapi juga nyawa.
Meskipun kasus penganiayaan terhadap Udin pada malam 13 Agustus 1996 telah dinyatakan kedaluwarsa, dunia pers Indonesia masih berharap motif di balik kasus tersebut dapat diungkap ke publik.
“Selama ini kami, wartawan Indonesia, hanya bisa menduga bahwa kasus ini berkaitan dengan pemberitaan. Kami tetap mendorong aparat untuk menyampaikan kepada publik apa motif sebenarnya, meskipun pelakunya tidak pernah tertangkap,” katanya.
Selain mendorong pengungkapan motif kasus, kalangan wartawan Yogyakarta juga berharap pemerintah melakukan kajian mendalam untuk menetapkan Udin sebagai pahlawan nasional, khususnya di bidang pers. Karena itu, Sigit menekankan, keteladanan Udin penting diwariskan kepada generasi muda. Keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran melalui karya jurnalistik dinilai masih sangat relevan di tengah tantangan pers saat ini.
“Di usia 30 tahun wafatnya Mas Udin, sudah selayaknya ada bentuk penghargaan kepada beliau. Salah satunya dengan adanya monumen di pusara Udin yang menceritakan perjuangannya di dunia pers,” tuturnya.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Ketua Komisi A DPRD Bantul, Jumakir. Ia menilai semangat yang terus dijaga oleh wartawan Yogyakarta, khususnya di Bantul, merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai jurnalisme yang diperjuangkan Udin.
“Ini menjadi bagian dari perjuangan teman-teman di Bantul untuk terus memberitakan kebaikan. Semangat Udin bisa menjadi contoh,” kata Jumakir.
Terkait dorongan agar Udin ditetapkan sebagai pahlawan nasional, Jumakir mengakui hal tersebut memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat.
“Seperti halnya Marsinah yang ditetapkan sebagai pahlawan buruh, dorongan menjadikan Udin sebagai pahlawan nasional di bidang pers tentu membutuhkan kajian dan perhatian yang mendalam,” tuturnya.
Oleh karena itu, momentum peringatan HPN 2026, Jumakir berharap wartawan tidak hanya berfokus pada pemberitaan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi daerah.
“Harapannya, teman-teman wartawan tidak hanya sekadar memberitakan, tetapi juga memberi solusi demi kebaikan Bantul, khususnya, dan masyarakat secara luas,” pungkas Jumakir.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN










