
WARTA – JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Sebuah peristiwa tragis dan mendadak mewarnai kawasan wisata selatan DIY, tepatnya di Pertigaan Krapyak, Padukuhan Pulegundes 1, Kalurahan Sidoharjo, Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Pada Jumat, 14 Mei 2026, seorang sopir bus wisata berinisial DWS (47 tahun), warga Jalan Srikaton Utara, Purwoyoso, Ngaliyan, Semarang, meninggal dunia secara tiba-tiba saat sedang menjalankan tugas mengantar rombongan penumpang asal Kabupaten Batang yang baru saja menyelesaikan aktivitas wisata di Pantai Slili. Kejadian ini memicu kepanikan di kalangan penumpang, yang sebelumnya tengah menikmati momen liburan, kini dihadapkan pada situasi kritis yang tak terduga.
Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan oleh Kapolsek Tepus, AKP Suryanto, S.Pd., kronologi kejadian bermula ketika korban bersama seluruh rombongan wisatawan hendak melakukan perjalanan pulang menuju daerah asal mereka di Batang. Saat melintasi kawasan pertigaan sekitar Pantai Slili, kendaraan bus yang dikemudikan oleh DWS bergerak dengan kecepatan yang relatif pelan. Pada momen itulah, terjadi peristiwa yang mengubah suasana perjalanan tersebut secara drastis.
“Sesampainya di pertigaan Slili, korban tiba-tiba ambruk ke arah kiri saat masih berada di kursi pengemudi,” ungkap AKP Suryanto.
Suryanto menjelaskan secara detail kejadian sebagaimana yang dilihat dan dilaporkan oleh saksi mata di lokasi. Perubahan kondisi fisik korban yang terjadi dalam hitungan detik tersebut langsung terdeteksi oleh petugas kernet bus serta sejumlah penumpang yang duduk di bagian depan kendaraan. Kesadaran akan kondisi darurat tersebut mendorong upaya pertolongan pertama yang segera dilakukan oleh pihak kernet bersama beberapa penumpang lainnya. Korban pun segera dipindahkan dan diturunkan dari kabin pengemudi ke area yang lebih terbuka guna mendapatkan penanganan awal, seraya menunggu kedatangan tim medis dan aparat kepolisian.
Respon cepat dari pihak berwenang terlihat ketika personel Polsek Tepus bersamaan dengan tenaga kesehatan yang ditugaskan dari Puskesmas Tepus tiba di lokasi kejadian. Tim medis segera melakukan serangkaian pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mengetahui kondisi vital korban dan memberikan tindakan medis yang diperlukan. Namun, hasil pemeriksaan di lokasi menunjukkan fakta yang menyedihkan: nyawa korban tidak dapat diselamatkan.
AKP Suryanto menjabarkan temuan medis awal yang diperoleh di tempat kejadian perkara, di mana kondisi fisik korban telah menunjukkan tanda-tanda berakhirnya fungsi kehidupan.
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan denyut nadi korban sudah tidak teraba, napas tidak terdengar, saturasi oksigen tidak terdeteksi, serta respon cahaya pada mata negatif,” rinci AKP Suryanto, menguatkan penetapan status meninggal dunia di tempat kejadian. Setelah proses penanganan awal dan pengamanan lokasi selesai dilakukan, jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari untuk menjalani pemeriksaan lanjutan guna mengetahui penyebab kematian secara lebih mendalam.
Proses penggalian informasi lanjutan dilakukan di RSUD Wonosari memberikan gambaran penting terkait dinamika kasus ini. Hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap fisik jenazah tidak menemukan adanya indikasi atau jejak kekerasan fisik, maupun tanda-tanda kompresi pada bagian tubuh korban yang dapat dijadikan dugaan awal penyebab kematian. Pihak kepolisian juga telah menjalankan prosedur standar dengan melakukan koordinasi intensif bersama keluarga korban, guna mengatur proses pengambilan dan pemulangan jenazah ke tempat asal.
Sampai saat ini, penyelidikan terus dilakukan untuk memastikan penyebab pasti meninggalnya korban, mengingat tidak adanya unsur pidana atau tindak kekerasan yang teridentifikasi dalam kasus ini. Peristiwa ini menjadi catatan kelam sekaligus pengingat akan pentingnya pemantauan kondisi kesehatan bagi para pekerja yang bergerak di sektor transportasi dan pariwisata, mengingat beban kerja dan durasi perjalanan yang kerap kali menuntut fisik dalam kondisi prima.









