
WARTA – JOGJA.COM, BANTUL, DIY – Menyongsong penyelenggaraan Penais Award Tahun 2026, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di kalangan penyuluh agama terus digalakkan. Sebanyak 14 Penyuluh Agama Islam se-Kabupaten Bantul turut serta dalam kegiatan Pendampingan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berlangsung di Aula Lantai 2 Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kelompok Kerja penyuluh (Pokjaluh) dengan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Bantul.
Dalam sesi pembekalan, kegiatan menghadirkan narasumber utama Dr. KH. Muhsin Kalida, yang memaparkan panduan mendalam mengenai metodologi penyusunan tulisan ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar akademis, tetapi juga bernilai inspiratif serta memiliki dampak nyata bagi kemajuan sosial keagamaan di masyarakat.

Ketua IPARI Kabupaten Bantul, Hj. Sri Sumiyatun, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah fundamental untuk membangun dan memantapkan tradisi literasi di kalangan para penyuluh. Beragam tema strategis menjadi fokus bahasan dan materi tulisan yang dipersiapkan, mencakup isu anti korupsi, penegakan hukum, pemberdayaan ekonomi umat, literasi Al-Qur’an, pendampingan kelompok rentan, kesehatan masyarakat, penguatan moderasi beragama, pelestarian lingkungan hidup, hingga pengembangan metode penyuluhan yang inovatif dan adaptif terhadap dinamika zaman.
Rustam, Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Sewon yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai pendampingan ini sangat relevan dan memberikan nilai tambah yang signifikan. Menurutnya, penguasaan kemampuan menulis dan research menjadi sarana penting dalam memperluas jangkauan dakwah dan penyuluhan.
“Pendampingan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat literasi yang kian kuat serta melahirkan inovasi-inovasi dakwah yang adaptif, guna menghadapi dan mengikuti kompetisi Penais Award Tahun 2026 dengan persiapan yang matang dan maksimal,” ujar Rustam.
Kegiatan ini menegaskan komitmen institusi keagamaan dalam memastikan para penyuluh tidak hanya berperan sebagai pengajar lisan, tetapi juga sebagai intelektual yang mampu melahirkan gagasan tertulis yang konstruktif bagi pembangunan umat. (Rtm)

🔶 Redaktur: Mawan








