
Aliansi cinta Indonesia menyuarakan jogya tentrem negara Indonesia ayem (foto Hendri)
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Lapangan Denggung, Sleman, berubah menjadi ruang penuh kehangatan dan persatuan saat ratusan warga memadati lokasi pada Kamis (18/6/2026) sore. Dalam kegiatan bertajuk “Atraksi Budaya untuk Indonesia Damai”, kesenian dan nilai persatuan dikemas secara serasi mulai pukul 16.30 WIB, menjadi bukti nyata bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan untuk tujuan positif dan mendamaikan.
Kegiatan ini menampilkan berbagai sajian budaya mulai dari tari gaya baru, pertunjukan Jathilan Wargo Turonggo Mudo Sleman, pembagian balon, hingga sesi penandatanganan papan dukungan persatuan. Suasana berlangsung tertib, aman, dan penuh semangat kebersamaan, dihadiri lintas usia bersama keluarga besar masyarakat setempat.
Menurut Nurcholis selaku Koordinator Lapangan, kegiatan ini merupakan wujud nyata partisipasi warga dalam menjaga kohesi sosial. “Kegiatan budaya adalah cara terbaik menyalurkan aspirasi secara damai. Perbedaan pendapat hal wajar dalam demokrasi, namun penyampaiannya harus tetap menjaga persatuan dan tidak merusak ketertiban umum,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan salah satu warga yang hadir. “Selain hiburan, acara ini mengingatkan kita untuk tetap rukun. Jika suasana aman, pembangunan berjalan lancar dan kita bisa beraktivitas dengan tenang,” ujarnya. Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama demi keselamatan bangsa dan para pemimpin, sebagai harapan agar Indonesia tetap kondusif menghadapi masa depan.
Kegiatan ini berjalan sepenuhnya dalam koridor hukum yang melindungi kebebasan berekspresi dan berkumpul:
– UUD 1945 Pasal 28E ayat 3: Hak berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
– UU No. 9 Tahun 1998: Mengatur penyampaian pendapat harus damai, tertib, dan menghormati hak orang lain.
– UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM: Menegaskan hak berpendapat selama tidak melanggar norma hukum dan ketertiban.
Berdasarkan kerangka tersebut, budaya berperan sebagai media edukasi: partisipasi sosial tidak harus konfrontatif, melainkan bisa melalui seni dan doa. Penggunaan ruang publik ini memiliki tiga fungsi utama:
1. Edukasi Kewargaan: Mencontohkan aspirasi tanpa kekerasan maupun provokasi.
2. Perekat Sosial: Seni tradisional menjembatani perbedaan generasi dan latar belakang.
3. Dukungan Stabilitas Pembangunan: Keamanan memungkinkan program ketahanan pangan, pendidikan, dan kesehatan berjalan baik.
Koordinator kembali menegaskan pesan inti acara: “Kami ingin masyarakat terbiasa menyampaikan pendapat dengan damai. Perbedaan jangan jadi pemicu konflik, melainkan bagian dari demokrasi yang sehat.”
Sebagai penutup, kegiatan di Lapangan Denggung menjadi contoh teladan: ketika budaya, hukum, dan partisipasi warga berjalan seiringan, ruang demokrasi akan semakin kokoh dan bermartabat.
🔴 Penulis
🌐 Redaktur: Mawan








