
Gambar ilustrasi
WARTA-JOGJA.COM || GUNUNGKIDUL, DIY – Dugaan sikap arogansi SGT, oknum anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul periode 2024–2029. Perilaku tersebut diduga ditujukan kepada pelayan berinisial YL di warung Bakmi Mbak Tri Gading VI, wilayah Playen, dan kini viral di media sosial Facebook setelah diunggah akun Erwin Widodo pada Jumat (14/8/2026).
Insiden bermula Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, hanya karena selisih uang kembalian senilai Rp500 berupa uang logam. Alih-alih memaklumi, SGT diduga marah besar, meremehkan keberadaan warung kecil tersebut, hingga membentak YL dengan kalimat: “Kamu tahu siapa saya?”
Berdasarkan unggahan tersebut, perlakuan serupa bukan terjadi satu kali saja. Pihak pengelola warung merasa sangat keberatan dan tidak terima atas sikap yang terus-menerus merendahkan mereka hanya karena berstatus pelaku usaha kecil.
Perlu ditegaskan, informasi ini sejauh ini merupakan klaim dari unggahan media sosial dan belum menjadi fakta yang terbukti sepenuhnya. Klarifikasi resmi dari SGT maupun Sekretariat DPRD Gunungkidul sangat dinantikan agar pemberitaan berjalan berimbang dan tidak keliru menilai.
Apabila dugaan ini benar, masalahnya bukan lagi soal uang logam yang nilainya sangat kecil. Melainkan tentang bagaimana seorang pemegang amanah rakyat memperlakukan sesama warga, khususnya golongan ekonomi lemah.
Menjadi wakil rakyat berarti mengemban tugas melayani, bukan merasa lebih tinggi dan menuntut penghormatan berlebihan. Pedagang kecil, pekerja warung, maupun warga biasa memiliki martabat yang sama dan wajib dihargai.
Aturan etika anggota legislatif pun mewajibkan setiap anggota menjaga nama baik lembaga serta mengutamakan kepentingan masyarakat. Jabatan tidak menjadikan seseorang kebal kritik maupun lepas dari aturan kesusilaan.
Jika benar ucapan dan tindakan merendahkan itu terjadi, maka klarifikasi serta penilaian etika secara terbuka harus segera dilakukan. Masyarakat tidak butuh wakil rakyat yang menuntut dihormati karena jabatannya, melainkan yang tahu cara menghormati rakyatnya sendiri-baik di ruang sidang maupun saat berhadapan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kini publik menunggu tanggapan resmi dari pihak yang bersangkutan maupun pimpinan DPRD Gunungkidul, agar kasus ini tidak hanya berhenti sekadar viral, melainkan tuntas secara transparan dan adil.(*)









