WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Kajian rutin malam Jumat di Masjid Al Iklas, Trowono A, Kalurahan Karang Asem, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Kamis malam, 1 Oktober 2026, menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali meneguhkan rasa syukur, menjalani kehidupan secara sederhana, menjaga ucapan, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dalam kajian tersebut, Ustadz Margito, S.Pd.I., dari Grogol, mengingatkan jamaah agar tidak berlebihan dalam menggunakan air bersih dan tidak mengabaikan warga yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber daya tersebut.
Kajian yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Al Iklas itu menghadirkan Ustadz Margito sebagai pengisi ceramah. Ia merupakan anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gunungkidul.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Margito menempatkan rasa syukur sebagai salah satu fondasi penting dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, manusia perlu belajar menerima apa yang dimiliki dengan lapang dada dan tidak terjebak pada keinginan yang berlebihan.
Ia menyampaikan bahwa Nabi dan para ulama memberikan teladan kehidupan yang sederhana. Mereka menerima apa yang tersedia dengan penuh penerimaan: apabila terdapat makanan yang cocok untuk dimakan, maka makanan tersebut dimakan; apabila tidak cocok, maka ditinggalkan. Prinsip tersebut menggambarkan sikap tidak berlebihan sekaligus tidak mudah berkeluh kesah terhadap keadaan.
Kebutuhan yang tersedia untuk hari ini, menurutnya, cukup untuk menjalani kehidupan hari ini. Sikap tersebut diharapkan dapat membuat hati lebih tenang sehingga seseorang tidak terus-menerus dibebani kekhawatiran yang berlebihan mengenai masa depan.
Bersyukur dan Tidak Berlebihan dalam Menggunakan Air
Pesan mengenai kesederhanaan juga dikaitkan dengan penggunaan air bersih. Ustadz Margito mengingatkan jamaah agar tidak boros dalam memanfaatkan air, terlebih masih terdapat masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap sumber daya tersebut.
Pesan itu menjadi relevan dalam kehidupan sehari-hari karena air merupakan kebutuhan dasar yang harus dimanfaatkan secara bijaksana. Kesadaran untuk menggunakan air secukupnya tidak hanya berkaitan dengan penghematan, tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat lain yang belum memiliki akses memadai.
Dalam konteks tersebut, rasa syukur tidak berhenti pada ucapan, melainkan diwujudkan melalui perilaku konkret dalam menggunakan dan menghargai sumber daya yang tersedia.
Rezeki, Ikhtiar, dan Saling Melengkapi dalam Keluarga
Dalam kajiannya, Ustadz Margito juga menegaskan bahwa rezeki datangnya dari Allah. Demikian pula kesembuhan bagi orang yang sakit, yang pada hakikatnya terjadi atas izin Allah.
Namun, keyakinan tersebut tidak berarti manusia berhenti berusaha. Ia mengajak seluruh elemen keluarga untuk menjalankan perannya secara bersama-sama. Laki-laki berjuang mencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah tangga dan kebutuhan keluarga.
Keduanya dipandang sebagai bagian yang saling melengkapi dalam kehidupan keluarga. Karena itu, perbedaan peran tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan, melainkan menjadi bagian dari kerja sama dalam membangun kehidupan rumah tangga.
Tiga Pesan untuk Menjaga Hubungan Sosial
Ustadz Margito juga menyampaikan tiga hal mendasar yang perlu dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Pertama, jangan menyakiti hati orang lain. Menurut pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut, hubungan antarmanusia harus dibangun dengan kehati-hatian agar ucapan maupun tindakan tidak menimbulkan luka bagi orang lain.
Kedua, melayani sesama dengan tulus dan baik. Kepedulian sosial tidak cukup diwujudkan melalui perkataan, tetapi perlu diterapkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Ketiga, peduli terhadap mereka yang belum beruntung, termasuk orang-orang yang belum menikah maupun mereka yang belum memiliki kemapanan. Kepedulian tersebut penting agar kehidupan bermasyarakat tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga memperhatikan kondisi orang lain.
Fenomena Warga Paliyan Merantau dan Tantangan Keluarga
Ustadz Margito kemudian mengaitkan materi kajian dengan realitas sosial yang dihadapi sebagian masyarakat Paliyan. Ia menyebut banyak warga yang merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan dan mengirimkan uang kepada keluarga di kampung halaman.
Merantau memang dapat menjadi bagian dari ikhtiar ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kondisi tersebut juga memiliki konsekuensi sosial yang perlu diperhatikan, terutama ketika orang tua harus meninggalkan rumah dalam waktu yang lama.
Menurut Ustadz Margito, ketika kehadiran orang tua di rumah berkurang, anak-anak dapat tumbuh tanpa pendampingan yang cukup. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan membuat anak kehilangan arah apabila tidak memperoleh perhatian dan pendampingan keluarga secara memadai.
Karena itu, jarak geografis tidak seharusnya menghilangkan ikatan emosional antara orang tua dan anak. Komunikasi, perhatian, serta pendampingan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan keluarga meskipun anggota keluarga harus tinggal berjauhan.
Teladan Kepedulian pada Masa Umar bin Khattab
Dalam ceramahnya, Ustadz Margito juga mengangkat teladan dari zaman Khalifah Umar bin Khattab. Ia menyampaikan perbandingan mengenai bagaimana persoalan sosial dan keadilan dipandang pada masa tersebut.
Ia mengatakan, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, yang dipenjara adalah pencurinya, bukan orang yang kehilangan barang akibat pencurian. Sementara dalam kehidupan masa kini, pihak yang dirugikan justru kerap menjadi pihak yang merasakan beban akibat suatu persoalan.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kewajiban sosial untuk memperhatikan kondisi masyarakat sekitar. Menurutnya, tidak semestinya ada tetangga yang mengalami kelaparan ketika orang-orang di sekitarnya hidup dalam kecukupan.
Kepedulian terhadap mereka yang lemah dan kurang mampu, dalam konteks kajian tersebut, dipandang sebagai bagian penting dari pengamalan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjaga Ucapan dan Perasaan Sesama
Ustadz Margito juga mengutip penelitian dari Jepang mengenai air yang diperlakukan dengan kata-kata baik dan kata-kata kasar. Ia menyampaikan bahwa air yang diperlakukan dengan kata-kata yang baik menghasilkan struktur kristal yang indah, sedangkan air yang menerima kata-kata kasar membentuk struktur yang buruk.
Pesan tersebut kemudian digunakan sebagai refleksi mengenai pentingnya menjaga ucapan dalam hubungan antarmanusia.
Jika materi yang tidak bernyawa saja dijadikan gambaran mengenai respons terhadap perlakuan dan kata-kata, maka manusia yang memiliki perasaan tentu harus diperlakukan dengan lebih baik. Karena itu, jamaah diingatkan untuk menjaga ucapan sekaligus menjaga perasaan orang lain.
Ustadz Margito juga mengingatkan agar setiap aktivitas diawali dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah sebagai bentuk kesadaran bahwa kehidupan dan segala sesuatu yang diperoleh manusia berada dalam kehendak dan izin Allah.
Bersyukur sebagai Jalan Menjaga Ketenteraman Hati
Pada bagian akhir kajian, Ustadz Margito merangkum pesan yang disampaikannya kepada jamaah. Ia menekankan bahwa bersyukur merupakan kunci kebahagiaan.
Selain bersyukur, jamaah diajak untuk bekerja sama, tidak menyakiti orang lain, memperhatikan kondisi sesama, serta menjaga ucapan dan hati. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai materi kajian, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kehidupan sosial membutuhkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama.
Segala sesuatu berasal dari Allah. Karena itu, Ustadz Margito kembali mengingatkan jamaah untuk mengawali segala sesuatu dengan Bismillah dan mengakhirinya dengan Alhamdulillah.
Kajian rutin malam Jumat di Masjid Al Iklas tersebut pada akhirnya menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk memperkuat rasa syukur, membangun kesederhanaan dalam kehidupan, menjaga keharmonisan keluarga, serta menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya.

Redaktur: Mawan

