WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (Dispar DIY) melakukan evaluasi dan klasifikasi terhadap Dewi Purbo, Desa Wisata Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing desa wisata di DIY. Dalam kunjungan tersebut, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara menekankan pentingnya inovasi paket wisata, strategi promosi, penguatan branding, serta kolaborasi dengan biro perjalanan agar Dewi Purbo mampu berkembang dari status Desa Wisata Berkembang menuju Desa Wisata Maju.
Kegiatan klasifikasi tersebut dipimpin langsung oleh GKR Bendara selaku Ketua Pokja Tim Klasifikasi Desa Wisata DIY sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY. Tim penilai terdiri atas unsur akademisi, praktisi pariwisata, pengelola desa wisata, hingga perwakilan industri pariwisata.
Klasifikasi desa wisata menjadi bagian penting dalam pemetaan kualitas destinasi wisata berbasis masyarakat di DIY. Penilaian dilakukan secara komprehensif untuk menentukan posisi desa wisata dalam empat tingkatan, yakni Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri.
Dalam proses tersebut, berbagai aspek menjadi bahan evaluasi, mulai dari kelembagaan, atraksi wisata, amenitas, hingga pemasaran dan promosi. Evaluasi diharapkan tidak hanya menghasilkan predikat administratif, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong peningkatan kualitas pengelolaan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dalam kunjungannya ke Dewi Purbo, GKR Bendara memberikan sejumlah catatan strategis, terutama berkaitan dengan marketing, promosi, dan branding. Menurutnya, pengelola desa wisata perlu membangun strategi pemasaran yang lebih terarah agar produk wisata yang dimiliki mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu strategi yang ditekankan adalah memperkuat jejaring dengan biro perjalanan atau travel agent.
GKR Bendara menyarankan agar pengelola memberikan kuota promosi gratis melalui kegiatan seperti Familiarization Trip kepada perwakilan biro perjalanan. Setiap tahun, pengelola dapat mengundang lima orang perwakilan dari lima travel agent berbeda untuk mengenalkan secara langsung potensi dan produk wisata yang dimiliki Dewi Purbo.
Strategi tersebut dinilai dapat membuka peluang pasar baru sekaligus membangun hubungan langsung antara pengelola desa wisata dan industri perjalanan.
Selain menggandeng travel agent, GKR Bendara juga menilai bahwa brosur promosi fisik masih memiliki peran penting, meskipun perkembangan pemasaran digital semakin pesat.
Pengelola Dewi Purbo disarankan mempelajari desain brosur yang digunakan Desa Wisata Jatimulyo sebagai salah satu referensi dalam menyusun materi promosi yang informatif dan menarik.
GKR Bendara juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran untuk kegiatan pemasaran. Promosi tidak cukup dilakukan secara insidental, tetapi perlu dirancang sebagai program yang berkelanjutan.
Karena itu, pengelola desa wisata disarankan mengalokasikan anggaran promosi secara berkelanjutan agar kegiatan marketing dapat berjalan konsisten dan tidak berhenti pada momentum tertentu saja.
Penguatan promosi tersebut perlu berjalan beriringan dengan pengembangan produk wisata. Menurut GKR Bendara, desa wisata harus memiliki daya tarik yang mampu membedakannya dari destinasi lain.
Salah satu perhatian utama dalam evaluasi Dewi Purbo adalah perlunya inovasi dalam menciptakan paket wisata.
GKR Bendara meminta pengelola tidak hanya mengandalkan atraksi yang sudah banyak ditawarkan desa wisata lain, tetapi mengembangkan pengalaman wisata yang memiliki karakter dan keunikan tersendiri.
“Siapkan paket-paket wisata yang unik. Kalau sekadar atraksi bermain gamelan, di desa wisata lain sudah sangat banyak,” pesannya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan produk wisata perlu diarahkan pada penciptaan pengalaman yang mempunyai nilai pembeda. Keunikan tersebut dapat menjadi fondasi penting dalam membangun identitas atau branding Dewi Purbo di tengah persaingan antardesa wisata.
Selain pemasaran dan pengembangan produk wisata, GKR Bendara memberikan pandangan mengenai strategi pembukaan destinasi wisata baru.
Menurutnya, pembukaan destinasi sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui tahap soft opening. Langkah tersebut memberikan kesempatan kepada pengelola untuk menguji kesiapan destinasi, melakukan evaluasi terhadap operasional, sekaligus memperbaiki berbagai kekurangan sebelum destinasi dibuka secara resmi kepada masyarakat luas.
“Jika ingin membuka destinasi, sebaiknya diminta bertahap, misalnya soft opening terlebih dahulu. Setelah semuanya dievaluasi dan benar-benar oke, barulah grand opening,” tuturnya, Senin (5/10/2026).
Strategi tersebut dinilai penting untuk memastikan aspek pelayanan, fasilitas, keamanan, pengelolaan, hingga pengalaman wisatawan benar-benar siap sebelum destinasi memasuki tahap pembukaan secara penuh.
Kehadiran Tim Klasifikasi Desa Wisata DIY mendapat sambutan dari jajaran Pemerintah Kalurahan Pucung dan Kapanewon Girisubo.
Panewu Anom Kapanewon Girisubo, Hari Susanto, S.T., M.Eng., menyampaikan apresiasi terhadap langkah Dispar DIY yang melakukan evaluasi secara langsung. Ia berharap momentum tersebut dapat mendorong Dewi Purbo meningkatkan kualitas pengelolaan dan naik kelas dari statusnya saat ini sebagai Desa Wisata Berkembang menjadi Desa Wisata Maju.
Namun, Hari menegaskan bahwa peningkatan status desa wisata tidak boleh berhenti pada pencapaian administratif.
“Jangan hanya di atas kertas, hitam di atas putih. Predikat desa wisata ini harus benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Harapannya, perputaran ekonomi di wilayah ini meningkat dan masyarakat sekitar makin sejahtera,” tegas Hari.
Pernyataan tersebut menempatkan manfaat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sebagai indikator penting dalam pengembangan desa wisata. Dengan demikian, peningkatan predikat harus diikuti oleh dampak nyata terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar destinasi.
Lebih jauh, Hari Susanto memproyeksikan pengembangan pariwisata yang lebih luas dan berkelanjutan di wilayah Kapanewon Girisubo.
Ia berharap seluruh kalurahan di Kapanewon Girisubo pada akhirnya dapat memenuhi standar untuk menyandang predikat desa wisata. Apabila hal tersebut dapat diwujudkan, potensi antarkalurahan dapat dikembangkan secara lebih terintegrasi dan saling mendukung.
Visi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata terintegrasi di kawasan Gunungkidul bagian timur.
Dengan demikian, proses klasifikasi tidak hanya menjadi sarana untuk menentukan tingkatan desa wisata, tetapi juga dapat menjadi momentum evaluasi dan pembenahan pengelolaan destinasi secara menyeluruh.
Bagi Dewi Purbo, catatan Tim Klasifikasi Desa Wisata DIY menjadi masukan strategis untuk memperkuat kelembagaan, mengembangkan atraksi yang lebih khas, meningkatkan kualitas layanan, memperluas jaringan pemasaran, serta membangun paket wisata yang memiliki daya saing.
Pada akhirnya, peningkatan status dari Desa Wisata Berkembang menuju Desa Wisata Maju diharapkan tidak sekadar tercermin dalam predikat, tetapi benar-benar diwujudkan melalui peningkatan kunjungan wisatawan, penguatan ekonomi lokal, dan semakin besarnya manfaat pariwisata bagi masyarakat Desa Pucung.


