
GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Di balik kemeriahan dan keramaian tradisi Bersih Dusun (Rasul) empat (4) Padukuhan menyimpan makna dan sejarah yang tak lekang oleh waktu. Walaupun acara rasul dilaksanakan di musim hujan, namun warga masyarakat empat Padukuhan (Padukuhan Grotan, Brongkol, Kenis dan Jimatan) tetap antusias mengikuti acara sakral genduri agung yang diselenggarakan di Balai Padukuhan Brongkol, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (19/05/2025).

Acara sakral genduri agung berlangsung khidmat bernuansa jawa klasik, mereka mengenakan pakaian adat jawa komplit selaras dengan alunan geding jawa yang diprakarsai oleh pelaku seni karawitan empat Padukuhan.
Turut hadir dalam acara rasul yaitu dari Pemerintah Kapanewon Tepus, Anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul Sigit Subarno S.AP. DPRD Gunungkidul Komisi A Fraksi PDI.P, Lurah Purwodadi Sagiyanto S.I.P, beserta jajaran Pamong, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh seni dan budaya, Karang Taruna, tokoh masyarakat.

Lurah Purwodadi Sagiyanto S.I.P, dalam pidatonya menyampaikan ucapan terima kasih kepada para tamu undangan beserta tokoh masyarakat telah menghadiri dan masih melestarikan acara bersih dusun atau rasul.
Ia memberikan apresiasi kepada warga masyarakat empat Padukuhan seperti tahun sebelumnya sampai saat ini masih nguri-uri tradisi dari nenek moyang dengan semangat gotong royong, golong giling, bersama-sama memanjatkan do’a dan rasa syukur kepada Allah SWT.

“Rasul atau bersih dusun merupakan kearifan lokal yang menjadi tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat menekankan arti dari bersih (reresik) dan memiliki hajat (penghajat) untuk megungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas dilimpahkan panen, di mudahkan rezeki dan Kesehatan bagi semuanya,” jelasnya, Senin (19/05/2025).
“Walaupun rasul bukan merupakan nomenklatur dari Keraton Ngayogyakarta namun bersih dusun ini merupakan tradisi yang wajib kita jaga, selain itu merupakan bagian dari Keistimewaan Yogyakarta yang wajib terus dilestarikan sampai regenerasi selanjutnya,” ucap Lurah.

Hal senada disampaikan oleh perwakilan dari Panewu Tepus dan dari Anggota DPRD Sigit Subarno S.AP., semoga empat Padukuhan yang menyelenggarakan acara rasul diberikan kemudahan dalam hal kebajikan, tahun depan pertaniannya panennya berlimpah, diberikan kesehatan, rezeki lancar dan rasul tahun lebih meriah dan lebih kompak lagi.
Puncak acara sakral genduri agung adalah do’a bersama yang dipimpin oleh Sukap selaku kaum, selanjutnya diadakan acara makan bersama (kembul bujono).

Endro Cahyono, A. Md, selaku panitia acara dan penggiat budaya menyampaikan bahwa acara rasul tahun 2025 seperti tahun kemarin dilaksanakan selama dua hari.
“Hari Minggu (18/05/2025) merupakan hari pertama rasul ada kegiatan olahraga sepak bola, aneka pentas kesenian sampai malam hari dan launching buku Sejarah Gerotan dan pada hari ini merupakan puncak acara rasul yaitu genduri agung, dilanjutkan pentas seni jatilan, malam harinya pentas wayang kulit semalam suntuk,” ungkapnya.

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa buku Sejarah Gerotan ditulis oleh Mas Novianto Eko. P, SE. (Pamong Danarto). Penulis buku bertujuan untuk mengumpulkan keterangan maupun dokumentasi jaman dulu menjadi sebuah arsip tulisan supaya tidak hilang atau terlupakan kisah kisah masa lalu berkaitan dengan sejarah suatu wilayah.
“Ya, mumpung masih banyak narasumber yang bisa menceritakan kejadian, kisah, sejarah dan menunjukkan bukti bukti cerita masa lalu, sehingga perlu ditulis supaya tidak lupa. Dengan adanya buku sebagai jawaban atas ketidak pahaman sejarah suatu desa,” terang Endro.

Setelah penyerahan buku ini, kedepannya akan dicetak lebih banyak untuk diketahui publik dan kedepannya bisa menjadi portofolio menuju Desa Rintisan Budaya apabila diperlukan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul.
“Alhamdulillah dengan adanya buku Sejarah Gerotan masyarakat sangat antusias, bangga dan senang ada sesuatu hal yang penting di desanya.” imbuhnya.
Terselenggaranya rasul empat padukuhan berjalan lancar, walaupun sempat di guyur hujan selama 3 jam di sore hari namun lokasi tetap ramai banyak dipadati penonton dan pedagang nampak laris, warta-jogja.com mengabarkan.








