
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, melakukan pertemuan tertutup dengan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Balai Kota Yogyakarta, Kamis 4 Desember 2025. Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam di Ruang Yudhistira ini membahas dua isu utama, yakni rencana penataan Malioboro menjadi kawasan pedestrian dan perbaikan Jembatan Kewek.
Sri Sultan menjelaskan, kedua proyek tersebut membutuhkan penanganan bertahap karena terkait ketersediaan anggaran.
“Kita fokus dulu pada dua hal, Malioboro dan Jembatan Kewek. Semua kan pakai dasar anggaran. Untuk sementara ini, perbaikan Jembatan Kewek akan difokuskan pada antisipasi agar tidak membahayakan dari kemungkinan longsor atau penurunan struktur akibat hujan,” ujar Sri Sultan usai pertemuan.
Menurutnya, langkah awal perbaikan jembatan akan lebih menekankan pada pencegahan risiko. Sementara itu, studi teknis dan perhitungan anggaran menyeluruh masih terus dilakukan.
Terkait pembiayaan, Sri Sultan menyebut Pemda DIY telah mengajukan dukungan anggaran ke pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Total kebutuhan anggaran perbaikan Jembatan Kewek diperkirakan mencapai Rp 19 miliar.
“Pembiayaannya sudah kita sampaikan ke departemen APBN, yaitu PU. Total sekitar 19 miliar. Enam miliar itu untuk paket penyangga. Kita berharap bisa dibantu APBN, apalagi ini juga penting untuk cegah longsor sekaligus menyambut wisatawan saat Nataru. Jogja diprediksi menjadi salah satu tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara,” ungkapnya.
Sementara itu, mengenai rencana penutupan Malioboro menjadi kawasan pedestrian penuh, Sri Sultan menegaskan kebijakan tersebut masih berada pada tahap identifikasi. Uji coba pelarangan kendaraan yang dilakukan Pemkot Yogyakarta bertujuan untuk memetakan permasalahan di lapangan, seperti kebutuhan parkir dan fasilitas moda transportasi tradisional.
“Sekarang kita identifikasi dulu kekurangannya apa, entah parkir becak atau andong. Dengan percobaan ini kita bisa memetakan manfaat dan kekurangannya. Tidak mesti ditutup langsung, tapi kita harus pastikan seluruh prasarana pendukung memadai, termasuk relokasi bus dan penataan moda transportasi tradisional,” jelasnya.
Sri Sultan menambahkan, pembahasan ini penting untuk menentukan langkah teknis dan prioritas penanganan kedua proyek, agar wisatawan dapat menikmati Malioboro dan kondisi Jembatan Kewek tetap aman.
“Apakah memungkinkan tahun depan Malioboro ditutup total? Kalau belum, kita tentukan dulu apa yang harus dikerjakan untuk mengurangi beban. Tidak harus tergesa-gesa,” pungkasnya.

🔶 PIMPRET & REDAKTUR: MAWAN












