Upacara pembukaan dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., (foto Ginowe)
WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Kemah Santri Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) DIY ke-4 resmi dibuka di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hadi pada 25–27 September 2026. Sebanyak 183 santri yang berasal dari 9 pondok pesantren se-Daerah Istimewa Yogyakarta berpartisipasi dalam perkemahan yang mengusung pembentukan karakter, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta keterampilan hidup melalui pendidikan kepramukaan. Upacara pembukaan dipimpin oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., yang menegaskan perkemahan ini bukan sekadar kegiatan mendirikan tenda, melainkan “sekolah kehidupan” bagi generasi santri. Kwarda DIY menyambut baik penyelenggaraan ini dan berharap Sako SPN terus berkembang menjadi inspirasi bagi komunitas kepanduan lainnya.
Ahmad Bahiej: Perkemahan Adalah Sekolah Kehidupan yang Membentuk Karakter
Dalam amanat pembukaannya, Ahmad Bahiej menjelaskan bahwa alam menjadi ruang belajar paling efektif untuk membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, tangguh, dan mampu bekerja sama. Tantangan fisik seperti panas, hujan, kelelahan, hingga keterbatasan fasilitas justru menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan karakter seorang Pramuka santri.
“Perkemahan adalah sekolah kehidupan. Di sini kita belajar disiplin, mandiri, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, kepedulian, dan ketangguhan,” ujar Ahmad Bahiej pada upacara pembukaan, Jumat (26/9/2026).
Beliau berharap seluruh nilai luhur yang dipelajari selama kemah tidak berhenti saat peserta kembali ke lingkungan pesantren, melainkan diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut, Ahmad Bahiej menegaskan bahwa Pramuka dan pesantren merupakan dua kekuatan strategis yang bersinergi mencetak generasi tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, cinta tanah air, serta siap menghadapi dinamika di era digital.

Tiga Pesan Kakanwil Kemenag DIY untuk Seluruh Peserta
Di akhir amanatnya, Ahmad Bahiej menitipkan tiga pesan pokok yang menjadi pedoman selama perkemahan berlangsung:
1. Menjadi Pramuka yang berkarakter – menjadikan nilai moral dan akhlak sebagai fondasi utama setiap langkah;
2. Membangun kemampuan bekerja sama dan menghargai perbedaan – memperkuat persatuan di tengah keberagaman latar belakang;
3. Menjadi manusia yang memberi manfaat bagi sesama – mengutamakan kebaikan kolektif di atas kepentingan pribadi.
Para santri diajak menjadikan perkemahan sebagai ruang belajar, bersahabat, berpetualang, dan bertumbuh, sehingga pengalaman selama tiga hari mampu memperkuat nilai-nilai Dharma Pramuka yang selaras dengan pendidikan pesantren.
Kwarda DIY: Seko SPN Diharapkan Jadi Inspirasi Komunitas Lain
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, menyampaikan apresiasinya melalui Wakil Ketua Kwarda DIY Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kearifan Lokal, Chairul Agus Mantara. Usai upacara pembukaan, Agus menyampaikan bahwa Kwarda DIY menginginkan Sako SPN terus berkembang dan menjadi teladan bagi organisasi kepemudaan maupun lembaga pendidikan lainnya.

“Pesan beliau adalah bagaimana Sako ini bisa berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas yang lainnya,” ungkap Agus kepada awak media.
Sementara itu, Ketua Kwarda Sako SPN DIY, Sarjita, menjelaskan bahwa kemah santri tahun ini tidak hanya berisi kegiatan kepramukaan konvensional, melainkan juga pengayaan wawasan kebangsaan, jelajah alam, serta berbagai perlombaan edukatif yang dirancang khusus untuk melatih ketangguhan karakter para santri.
“Kemah santri ini diisi dengan wawasan kebangsaan, jelajah alam, dan berbagai perlombaan yang melatih karakter para santri,” jelas Sarjita.
Sinergi Nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kepramukaan
Selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 September 2026, Pondok Pesantren Al-Hadi menjadi wadah pembinaan generasi muda pesantren yang berkarakter kuat, berjiwa kepemimpinan, serta mampu mengintegrasikan nilai keislaman, kebangsaan, dan semangat kepramukaan dalam kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan penyelenggaraan ini membuktikan bahwa kolaborasi antara dunia pesantren dan gerakan kepanduan mampu melahirkan pemuda yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kokoh secara iman, akhlak, dan cinta tanah air.

Redaktur: Mawan

