
đ YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Ketua Paguyuban Warga ABA Yogyakarta, Agil Haryanto, menyoroti keberadaan parkir liar di kawasan utara dan selatan Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, yang dinilai dibiarkan oleh pemerintah kota (Pemkot). Ia menilai kondisi ini mengganggu ketertiban dan merugikan warga sekitar.
Menurut Agil, aktivitas parkir liar terutama terlihat di area belakang Parkir ABA (Abu Bakar Ali) Yogyakarta dan kantong parkir di selatan PLN Mangkubumi, depan BCA, yang disebut melibatkan oknum kepolisian serta pihak-pihak yang mengatasnamakan Keraton Yogyakarta dan PY Paramon.Â
âDi belakang yang parkiran utara ABA itu ada oknum-oknum kepolisian. Yang di selatan PLN itu, depan BCA, itu ada dua oknum kepolisian di situ yang bermain,â ujar Agil kepada wartawan, Sabtu 11 Oktober 2025.
âItu juga kan tanah sengketa antara PT Paramon dan Pemda DIY/Keraton. Yang satu oknum polisi, yang satu mengatasnamakan perwakilan Keraton, dan satunya lagi perwakilan PT Paramon. Mereka kerja sama biar menghasilkan uang dari parkiran itu,â sambungnya.
Agil menyebut, situasi ini telah berlangsung lama tanpa ada penertiban dari Pemkot yang memiliki kewenangan untuk menertibkan situasi itu. Ia menilai Pemkot Yogyakarta seolah membiarkan kondisi tersebut.
âSudah lima bulan saya di Menara Kopi, dan sampai hari ini bus pariwisata sudah mulai masuk. Sementara di selatan Tugu itu ada kantong parkir bus yang seakan dibiarkan oleh Pemkot. Padahal ranahnya pemkot kalau penertiban, tapi malah dibiarkan,â sesalnya.
Karena itu, ia mengatakan akan segera menghadap Wali Kota Yogyakarta untuk meminta solusi konkret. Jika tidak ada langkah penanganan, Agil menyatakan akan mengajak para pedagang untuk berjualan di kawasan Gumaton (Tugu – Malioboro – Keraton) sebagai bentuk aksi protes.
âKalau enggak ada solusi, nanti posko Gumaton itu akan kita jadikan tempat jualan pedagang. Parkir di pinggir jalan ya di bekas ABA, mau macet ya biarin aja, wong Pemkot enggak kasih solusi,â ucap Agil.
Agil juga menyinggung soal kawasan Gumaton tersebut yang masuk dalam sumbu filosofi Yogyakarta namun dianggap hanya dinikmati oleh pelaku bisnis besar.
âKatanya Gumaton itu masuk sumbu filosofi, tapi kok kalau urusan bisnis besar disuruh lewat saja. Makanya nanti dibantu informasinya ke rekan-rekan wartawan kalau kami sudah mau mulai bergerak lagi,â pungkasnya.

đ´ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN





