
Pakar Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM – Pemimpin yang muncul setelah intervensi Amerika Serikat di Venezuela berpotensi kehilangan legitimasi dan hanya menjadi perpanjangan kepentingan asing. Pakar Sosiologi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY),
Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., menilai pergantian kekuasaan yang dipicu tekanan eksternal sering menimbulkan ilusi perubahan di tengah masyarakat.
“Ketika masyarakat sudah tidak suka dengan pemimpin lama, lalu ada kekuatan asing yang menurunkannya, sering kali dukungan langsung diberikan. Padahal, pemimpin yang diangkat melalui campur tangan asing berpotensi besar menjadi pemimpin boneka,” ujarnya, Selasa (6/1/2026)
Menurut Zuly, euforia dukungan terhadap pemimpin baru semacam ini kerap menutupi risiko jangka panjang.
“Yang penting bukan hanya siapa yang diganti, tetapi bagaimana proses pergantian itu terjadi dan untuk kepentingan siapa,” tegasnya.
Menurutnya, dukungan yang dibangun hanya atas dasar ketidaksukaan terhadap rezim lama tidak selalu menghasilkan pemerintahan yang lebih baik atau berpihak pada rakyat.
Guru Besar Ilmu Sosiologi dari Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UMY itu menambahkan, pemimpin hasil intervensi asing biasanya terikat pada kepentingan pihak yang mendukungnya.
“Dalam konteks Venezuela, hal ini menjadi semakin krusial mengingat posisi strategis negara tersebut sebagai salah satu produsen minyak dunia,” jelas Zuly.
Lebih lanjut, Zuly menyoroti dampak penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat. Menurutnya, hal ini berpotensi menimbulkan krisis legitimasi karena masyarakat kehilangan rujukan otoritas yang jelas, sementara kendali pemerintahan berpindah ke aktor eksternal. Risiko instabilitas juga kian besar akibat perpecahan di kalangan elite Venezuela, termasuk politikus, militer, dan intelijen.
Untuk itu, ia mengingatkan, dukungan publik terhadap pemimpin pasca-invasi dapat dengan mudah dimanipulasi melalui narasi penyelamatan dan stabilisasi.
“Dalam situasi krisis, masyarakat cenderung mencari figur pengganti secara cepat, tanpa ruang refleksi yang memadai,” tuturnya.
Kendati demikian, untuk mencegah kekuasaan yang sepenuhnya dikendalikan pihak luar, Zuly menekankan pentingnya keberadaan kelompok masyarakat yang independen dan kritis.
“Harus ada kelompok kritis yang mengawal, mempertanyakan, dan mengawasi. Jika tidak, perubahan kepemimpinan ini justru akan melahirkan persoalan baru yang lebih besar,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












