
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem pada awal tahun 2026. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak curah hujan di wilayah DIY diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menjelaskan bahwa pada dasarian kedua Januari 2026, curah hujan di DIY berada pada kategori menengah hingga tinggi. Sementara itu, pada dasarian ketiga intensitas hujan diperkirakan mulai menurun.
“Di dasarian kedua ini curah hujannya menengah sampai tinggi, namun sifatnya tidak ekstrem. Mudah-mudahan tidak menimbulkan permasalahan,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).
Meski potensi hujan ekstrem belum terpantau, BPBD DIY tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memperkuat koordinasi bersama BPBD kabupaten dan kota. Melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops), BPBD DIY terus memantau laporan kondisi terkini di seluruh wilayah.
“Kalau diperlukan backup dari provinsi, kami sudah menyiapkan tim reaksi cepat untuk membantu penanganan di lapangan,” kata Agustinus.
Namun, ia mengungkapkan, Kabupaten Gunungkidul menjadi wilayah yang paling terdampak selama Januari 2026. Sejumlah kejadian bencana tercatat, mulai dari angin puting beliung hingga amblesan tanah di Kalurahan Girikerto, Kapanewon Panggang.
Terkait amblesan tanah tersebut, BPBD DIY bersama BPBD Gunungkidul dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) telah melakukan asesmen awal di lokasi. Tahap lanjutan berupa uji geolistrik direncanakan untuk mengetahui kondisi rongga di bawah permukaan tanah.
“Gunungkidul memiliki karakteristik aliran sungai bawah tanah dan rongga gua. Dengan uji geolistrik, kita bisa memastikan apakah kondisi tersebut membahayakan masyarakat yang bermukim di sekitarnya,” jelasnya.
Lanjut Agustinus menyampaikan bahwa pelaksanaan uji geolistrik di wilayah Panggang direncanakan dilakukan dalam beberapa minggu ke depan setelah persiapan peralatan selesai. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar pengambilan keputusan lanjutan
“Hasilnya nanti akan menjadi dasar penentuan langkah antisipasi, apakah perlu relokasi atau cukup dengan upaya mitigasi lainnya,” terangnya.
Selain itu, hujan lebat juga menyebabkan genangan di SMK Kelautan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Air dilaporkan masuk ke ruang kelas sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar.
“Lokasinya berada di cekungan dan setiap tahun memang menjadi langganan banjir. Dari hasil asesmen, kemungkinan akan direkomendasikan relokasi atau peninggian bangunan,” ungkap Agustinus.
Kendati demikian, lanjut dia, rekomendasi tersebut akan disampaikan kepada Dinas Pendidikan DIY karena kewenangan pengelolaan sekolah berada di tingkat provinsi.
“Tapi keputusan terkait relokasi atau perubahan konstruksi bangunan masih membutuhkan perencanaan lebih lanjut,” ucapnya.
Disamping itu, BPBD DIY juga mencatat sejumlah wilayah lain yang rawan longsor, di antaranya Gunungkidul, Kulon Progo, serta Bantul, khususnya kawasan Imogiri. Saat ini, status siaga darurat bencana hidrometeorologi di DIY telah diperpanjang hingga Februari atau awal Maret 2026.
Sebagai langkah antisipasi itu, Agustinus mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan mitigasi secara mandiri maupun komunal, seperti memangkas pohon yang berpotensi tumbang, membersihkan saluran drainase, serta melaporkan rekahan tanah atau tanda-tanda bahaya lainnya.
Serta ia juga mengajak masyarakat untuk segera melaporkan setiap kejadian darurat melalui saluran resmi agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.
“Kita lebih baik siap daripada tergagap. Harapannya kita terhindar dari bencana, tetapi kesiapsiagaan harus tetap dikedepankan,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN











