WARTA-JOGJA.COM, SLEMAN, DIY – Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) mengonfirmasi temuan satu kasus Influenza A (H3N2) subclade K atau yang dikenal luas sebagai “Super Flu” di wilayah Kabupaten Sleman. Kasus tersebut menimpa seorang bayi berusia di bawah satu tahun yang sempat menjalani perawatan inap di rumah sakit rujukan, namun kini telah dinyatakan sembuh sepenuhnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik menyikapi temuan tersebut. Menurutnya, kasus itu bukan kejadian baru, melainkan terjadi pada periode September – Oktober 2025, dan baru terkonfirmasi secara laboratorium pada awal 2026 karena proses pemeriksaan yang memerlukan waktu panjang.
“Disebutkan ada beberapa provinsi, salah satunya DIY. Ada satu kasus, itu di Sleman tapi domisilinya di Kota Yogyakarta. Namun kini pasien telah dinyatakan sembuh dan sudah dipulangkan,” ujar Ari kepada wartawan, Selasa 6 Januari 2026.
Ari menjelaskan, keterlambatan pengumuman ke publik bukan karena penutupan informasi, melainkan karena pemeriksaan varian virus hingga tingkat subclade memerlukan uji Whole Genome Sequencing (WGS) yang hanya dapat dilakukan di laboratorium nasional milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Tidak semua penyakit bisa langsung dideteksi sampai ke jenis virusnya. Pemeriksaan WGS itu hanya bisa dilakukan di lab Kemenkes dan itu mengelola sampel dari seluruh Indonesia. Jadi memang butuh waktu,” jelasnya.
Secara klinis, lanjut Ari, pasien sudah tertangani sejak awal. Saat dirawat, bayi tersebut mengalami demam tinggi dan gangguan pernapasan, dan secara diagnosis masuk dalam kategori pneumonia balita, yang memang sering terjadi pada periode tersebut.
“Pada waktu itu banyak anak yang rawat inap dengan pneumonia. Penyebab radang paru ini bisa bermacam-macam dan tidak semuanya bisa langsung diketahui jenis virusnya,” katanya.
Tertular dari Lingkungan Sekitar
Terkait sumber penularan, Ari menduga bayi tersebut tertular dari kontak erat dengan orang di sekitarnya, karena tidak memiliki riwayat perjalanan.
Namun, Dinkes DIY belum melakukan penyelidikan epidemiologi mendalam seperti saat pandemi COVID-19, mengingat jenis virus baru diketahui setelah pasien sembuh.
“Karena usia anak ini kurang dari satu tahun, jelas dia tidak ke mana-mana. Dugaan paling kuat tentu dari orang sekitarnya. Itulah kenapa orang yang sakit itu harus pakai masker, apalagi kalau di rumah ada bayi atau lansia,” tegasnya.
Tidak Ada Lonjakan Kasus
Kendati demikian, Ari memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada lonjakan kasus Super Flu di DIY, termasuk selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pemantauan dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta fasilitas kesehatan sentinel di tingkat puskesmas dan rumah sakit.
Ditegaskannya juga bahwa seluruh fasilitas kesehatan di DIY tetap wajib melaporkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan influenza like illness secara rutin.
“Penyakit respiratori dipantau setiap hari melalui pelaporan faskes. Kalau ada peningkatan, sistem akan langsung memberi alert. Sampai sekarang, belum ada laporan lanjutan yang mengarah ke super flu,” imbuh Ari.
Himbau Terapkan PHBS
Lebih lanjut, Ari menekankan bahwa berdasarkan pernyataan Kemenkes, Super Flu H3N2 subclade K umumnya tidak menyebabkan gejala berat dan tingkat fatalitasnya rendah.
“Kementerian juga menyatakan bahwa kasus ini rata-rata tidak berat. Jadi tidak perlu panik. Prinsip pencegahannya sama dengan ISPA lainnya,” jelasnya.
Namun, ia kembali mengingatkan masyarakat untuk disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Kalau sakit pakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan tingkatkan daya tahan tubuh. Itu kuncinya,” tegasnya lagi.
Terkait kemungkinan vaksin baru untuk Super Flu, Ari menyebut belum ada kebijakan khusus terkait vaksinasi untuk varian H3N2 subclade K. Saat ini, menurutnya pemerintah masih mengandalkan vaksin influenza yang tersedia dan langkah pencegahan non-farmakologis.
“Kita masih menunggu surat edaran resmi dari Kemenkes untuk kebijakan teknis lanjutan. Untuk saat ini, fokusnya adalah kewaspadaan, pelaporan kasus, dan pengendalian penularan,” pungkas Ari.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








