
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin usai menghadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr Sardjito (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan pemulihan atau recovery total seluruh rumah sakit dan puskesmas yang terdampak bencana di wilayah Sumatera dapat selesai pada Maret 2026. Pemulihan ini mencakup perbaikan fasilitas kesehatan, penggantian ambulans, hingga alat-alat kesehatan yang rusak akibat banjir dan lumpur.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin usai menghadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) RSUP Dr Sardjito, Kamis 8 Januari 2026.
“Sekarang kita masuk tahap ketiga. Tahap terakhir ini adalah recovery total. Kita targetkan Maret ini recovery total dari seluruh rumah sakit dan puskesmas,” ujarnya kepada wartawan usai acara.
Budi menjelaskan, dampak bencana di Sumatera cukup besar. Tercatat terdapat 87 rumah sakit di tiga provinsi yang terdampak, hingga menyebabkan layanan kesehatan sempat terhenti.
“Begitu bencana kena, itu berhenti beroperasi. Kita tiga hari atau empat hari langsung datang, bentuk tim, kita lihat ada sembilan rumah sakit yang benar-benar sudah tutup total karena memang banjirnya tinggi, lumpurnya masuk sampai sebadan,” katanya.
Pada tahap pertama, Kemenkes fokus pada recovery rumah sakit dalam dua minggu. Hasilnya, sembilan rumah sakit yang sebelumnya tidak dapat beroperasi sama sekali kini sudah kembali melayani pasien.
“Tanggal 14 Desember, sembilan rumah sakit yang tidak sama sekali bisa beroperasi karena lumpurnya segini, alhamdulillah kesehatan dapat prioritas, sudah bisa bersih dan beroperasi kembali. Meski belum penuh, tapi sudah bisa menerima pasien, IGD-nya ada,” jelas Budi.
Selanjutnya pada tahap kedua, Kemenkes menangani pemulihan puskesmas. Dari total 1.268 puskesmas, sebanyak 850 puskesmas sempat berhenti beroperasi akibat bencana.
“Begitu kita masuk 1 Desember, kita lihat ada 150 puskesmas yang tidak bisa beroperasi sama sekali, lumpurnya sudah segini, sudah berantakan, ada yang rubuh,” katanya.
Budi memaparkan upaya percepatan dilakukan hingga akhir Desember. Hasilnya, hanya tersisa empat puskesmas yang belum beroperasi.
“Di akhir Desember tinggal empat yang belum beroperasi. Yang lainnya sudah beroperasi walaupun tidak penuh, karena ambulansnya masih rusak, alatnya belum semua diperbaiki, kursi giginya rusak. Tapi sudah bisa melayani pasien,” ungkapnya.
Memasuki tahap ketiga, Kemenkes mengerahkan puskesmas yang sudah aktif untuk melayani warga di desa terisolasi dan pos pengungsian. Tercatat terdapat sekitar 1.000 pos pengungsian dengan jumlah pengungsi mencapai 300 ribu orang.
“Tugasnya puskesmas memastikan perawatan kesehatan rumah-rumah warga seperti biasa. Tapi yang di pos pengungsian ini tidak biasa, dan untuk itu kita harus kirim relawan karena tenaga puskesmasnya tidak cukup,” ucap Budi.
Menurutnya, saat ini relawan kesehatan yang dikoordinasikan Kemenkes telah mencapai 4.100 orang, berasal dari berbagai daerah dan organisasi.
“Banyak dari Jogja juga, dari UGM, Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, rumah sakit, relawan pengalaman COVID, Medical Science, Doctors Without Borders, International Red Cross, semua sudah datang kita urus. Tiap dua minggu kita rotasi,” paparnya.
Sementara dalam upaya recovery total, Kemenkes menangani kerusakan sarana pendukung layanan kesehatan. Salah satunya adalah ambulans.
“Ambulans yang rusak itu ada mungkin 205 unit. Kita termasuk yang paling cepat, sejak dua minggu lalu kita sudah datang ke Astra, Daihatsu, KIA, Isuzu, kirimin montir. Toyota Home Service juga datang ke sana. Sekarang sudah sekitar 50 ambulans diperbaiki, dan 80 sedang di bengkel,” papar Budi.
Disisi lain, kata Budi, hampir seluruh alat kesehatan terdampak banjir. Kemenkes telah mengirim teknisi untuk melakukan pengecekan menyeluruh.
“Kita rusak semua alat kesehatan. Teknisi Siemens juga sudah kita kirim ke rumah sakit untuk periksa mana yang benar-benar rusak, mana yang bisa diperbaiki,” ujarnya.
Oleh karena itu, untuk alat yang tidak bisa diperbaiki, pemerintah telah menyiapkan anggaran penggantian.
“Yang sudah rusak nanti kita masukkan ke anggaran. Kita sudah hitung butuh sekitar Rp 500 miliar, sudah kita ajukan supaya bisa dapat cepat penggantian, agar alat-alat yang rusak karena banjir bisa kita ganti,” tegas Budi.
Disamping itu, Kemenkes juga menghadapi kebutuhan besar akan perlengkapan nonmedis.
“Kita banyak butuh tempat tidur, kasurnya hilang ratusan, komputer hampir semua tidak bisa diperbaiki, butuh ribuan komputer. Mebel-mebel juga sudah tidak bisa diperbaiki,” pungkas Budi.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












