WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, mendorong percepatan transformasi layanan kesehatan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan strategi pendanaan yang agresif. Hal itu disampaikan dalam prosesi groundbreaking Gedung Central Medical Unit (CMU) di Zona C, Kamis 8 Januari 2026.
Menkes Budi mengatakan bahwa agar rumah sakit tersebut tidak hanya membangun satu gedung dengan dana internal, tetapi memanfaatkan leverage finansial untuk membangun tiga gedung sekaligus. Terlebih, RSUP Sardjito memiliki dana mandiri sebesar Rp 900 miliar. Menurutnya, dana ini bisa digandakan melalui pinjaman perbankan sehingga total anggaran mencapai Rp 2,7 triliun.
“Kalau kita ingin diperbanyak, punya uang Rp 900 miliar, jangan jadikan satu gedung. Dengan dana itu, perbankan akan senang hati memberikan pinjaman hingga Rp 1,8 triliun atau total anggaran Rp 2,7 triliun. Itu cukup untuk membangun tiga gedung,” ujar Menkes Budi dalam sambutannya.
Ia pun menargetkan tujuh gedung utama dalam masterplan RSUP Dr. Sardjito dapat beroperasi penuh dan diresmikan bersama pada tahun 2029, lebih cepat dari target awal 2040.
“Tahun ini, minimal dua gedung harus memulai groundbreaking, termasuk peremajaan Gedung E yang merupakan bangunan tertua,” katanya.
Menkes Budi menambahkan, sebelum masuk acara, dirinya sempat berdiskusi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X soal peresmian masterplan RSUP Sardjito tersebut. Dalam hal ini, ia berharap Sultan dapat hadir ketika proyek selesai dan menegaskan pentingnya menjaga kesehatan Sultan agar tetap sehat seperti Ratu Elizabeth II saat meresmikan rumah sakit di Inggris.
“Kami berharap Ngarsa Dalem bisa mendampingi kami meresmikan masterplan ini nanti. Kementerian Kesehatan merasa berhasil jika usia Ngarsa Dalem minimal sama dengan Ratu Elizabeth, dijaga oleh pelayanan kesehatan terbaik,” ucapnya.
Lanjut Budi, strategi percepatan ini juga menekankan manajemen keuangan yang efisien. Menkes bahkan siap membantu direktur keuangan RSUP Sardjito dalam menstruktur transaksi agar pembangunan tiga gedung bisa terealisasi sekaligus.
“Kalau nanti Direktur Keuangannya enggak ngerti nanti Menterinya sebagai ex-bankir membantu Ibu (Dirut) untuk bisa menstruktur transaksinya agar bisa 3 gedung dibangun. Tinggal nanti kita secara pentahapan operasional menentukan mana yang mesti dirubuhkan dulu mana yang mesti dibangun duluan,” paparnya.
Artinya, kata Menkes Budi, dengan dana Rp 900 Miliar ini minimal dibangun 2 gedung atau terbilang pada tahun ini, dimana groundbreaking-nya 2 tidak hanya acara seremonial ini saja, melainkan ada yang lainnya, misalnya bisa digunakan sebagai rawat inap dan atau pada tahun depan digunakan untuk onkologi.
“Baru tadi bisik-bisik (sama Dirjen) yang harusnya dalam kita sudah berhasil mendapatkan sumber pendanaan dari APBN dan RSUP Sardjito di tahun 2027 akan dapat lagi 1 triliun untuk pembangunan. Jadi kalau bisa ya 3 gedung berikutnya, jangan 1 triliun nya dipakai buat bangun 1 gedung seperti ini,” ungkap Menkes Budi.
“Karena dengan 1 triliun itu kita bisa mungkin bisa jadikan 2,5. Sehingga Insya Allah 7 gedung itu kalau bisa jadi beroperasi dan diresmikan di tahun 2029 sebelum selesai masa jabatan kami,” sambungnya.
Fasilitas Berbasis Teknologi Tinggi
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, dr. Eniarti, menjelaskan Gedung CMU akan menjadi pusat layanan berteknologi tinggi dengan luas 51.825 meter persegi, delapan lantai, dan dua basement. Kapasitas tempat tidur akan meningkat menjadi 1.189 unit, dengan 302 untuk perawatan intensif, termasuk 195 bed untuk ICU. Tersedia juga 30 kamar operasi, lima di antaranya khusus untuk bedah robotik.
Selain itu, gedung ini dilengkapi dengan laboratorium produksi sel punca (stem cell), cath lab biplane, serta kapasitas layanan komprehensif berupa 52 tempat tidur emergensi, 29 kamar operasi, 6 cath-lab, 192 tempat tidur perawatan intensif, dan fasilitas parkir.
“Gedung ini akan menambah kapasitas tempat tidur dan mengintegrasikan layanan yang selama ini terpisah-pisah. Kami ingin membuktikan kualitas berobat di dalam negeri mampu menyaingi layanan luar negeri,” ujar dr. Eniarti.
Lanjut, dr Eniarti, sejalan dengan semangat transformasi yang menekankan kolaborasi tata kelola dan keberlanjutan institusi pembangunan, ia memaknai amanah tersebut, dalam hal ini, pihaknya pada tahun depan akan melakukan kolaborasi keberlanjutan transformasi.
Serta, menurutnya, gedung nantinya melibatkan lebih dari 1.500 tenaga medis dan profesional kesehatan yang akan mendukung operasional seluruh layanan yang disediakan
“Dan insya Allah mulai dari perencanaan kemudian sampai kontrak, kami sudah mendapat pendampingan dari Kejaksaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dari BPKP, PUPR Jogja, serta tenaga ahli dari Universitas Gajah Mada (UGM),” tuturnya.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, turut menekankan pentingnya filosofi kemanusiaan dalam pembangunan fisik yang masif. Menurutnya, CMU harus menjadi simbol “restorasi sosial” dan manifestasi filosofi Hamemayu Hayuning Bawana.
“Teknologi, sistem, dan tata kelola tidak lagi sekadar diuji oleh efisiensi. Kemajuan tidak boleh kehilangan rasa, dan ketertiban tidak boleh menjauh dari kemanusiaan,” tegas Sultan HB X.
Beliau menjelaskan, pembangunan fisik bukan sekadar proses prosedural.
“Setiap tiang yang ditegakkan dan setiap batu yang disusun mengandung makna batinia, doa yang ditegakkan dengan kesadaran etos kerja. Pembangunan sejati mencerminkan laku merawat kehidupan,” imbuh Ngarsa Dalem.
Oleh karena itu, Sultan berharap dengan konsep Patient Centered Care, RSUP Sardjito berupaya menjadikan pasien subjek yang mendapatkan pelayanan berkesinambungan dan bermakna, bukan sekadar objek yang berpindah antar-unit. Penerapan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, akan ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti sentuhan kemanusiaan.
Serta, pembangunan proyek ini menjadi poros layanan kesehatan masa depan, tidak hanya bagi DIY, tetapi juga bagi wilayah selatan Jawa dan Indonesia, menggabungkan kemajuan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
“Semegah apapun gedungnya, jika tanpa sentuhan kemanusiaan, akan melahirkan pelayanan yang dingin dan teralienasi,” pungkas Sultan.
Sebagai informasi, proyek pembangunan ini dengan nilai kontrak mencapai Rp917,97 miliar, melibatkan kerja sama antara PT Hutama Karya dan PT Wijaya Karya sebagai kontraktor pelaksana, serta KSO Yodya Karya – Griksa Cipta sebagai konsultan perencana.
Gedung ini diharapkan akan menjadi Center of Excellence (CoE) yang menyediakan berbagai layanan medis canggih, seperti layanan emergensi, layanan bedah minimal invasif, transplantasi organ, hingga layanan precision medicine dengan laboratorium sel dan sel punca.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN













