
Trixi Karinina Dewi Sindhutomo (kanan) foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Trixi Karinina Dewi Sindhutomo berhasil mencatat prestasi luar biasa dengan menyelesaikan studi S1 di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, hanya dalam 3 tahun 27 hari.
Prestasi ini membuatnya menjadi salah satu wisudawan dengan masa studi tercepat pada Wisuda UGM Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I 2025, yang digelar Selasa 25 November 2025, yang digelar di Grha Sabha Pramana. Ia bahkan meraih IPK 3,85, lebih tinggi dari rata-rata lulusan S1 yang umumnya menempuh waktu 4 tahun 4 bulan.
“Aku sangat bersyukur. Sebenarnya aku nggak nyangka bisa menjadi tercepat dan juga terbaik di jurusanku sendiri,” ujar Trixi dalam keterangannya, Senin 1 Desember 2025.
Ia mengaku memilih jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik karena ketertarikannya pada isu sosial dan ingin mencari solusi melalui kebijakan yang efektif. Selama berkuliah, ia tak hanya fokus pada akademik, tapi juga aktif di berbagai kegiatan kepanitiaan dan volunteering.
Prestasinya pun tidak hanya di kelas yakni Trixi pernah meraih Medali Perak Pimnas serta predikat Best Presentation dan Best Paper pada Temu Administrator Muda Indonesia.
Selain aktif di dalam negeri, Trixi juga mengikuti program pertukaran pelajar ke University of Groningen, Belanda, pada semester 5. Di sana, ia melakukan riset dan pengambilan data untuk skripsinya yang berjudul National Social Housing Policy for the Indonesian Middle Class: Policy Learning from the Netherlands. Penelitian ini membahas kebijakan social housing bagi kelas menengah di Belanda dan bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi contoh bagi Indonesia.
“Di Belanda, aku fokus pada Spatial Planning yang berkaitan dengan pembangunan sarana publik dan tata kelola kota serta desa. Ini agak berbeda dengan jurusanku, tapi tetap relevan,” jelas Trixi.
Ia mengumpulkan data primer dari dua orang yang bekerja di Housing Association Belanda dan satu akademisi ahli di bidang housing market, serta data sekunder dari dua pejabat PUPR Indonesia. Menyeimbangkan program pertukaran pelajar dan pengerjaan skripsi bukan hal mudah, tapi Trixi membuktikan bahwa disiplin dan konsistensi membuahkan hasil.
“Kuncinya itu tekun dan konsisten. Tidak semua hari akan menyenangkan, tapi tetap dijalani. Jangan sampai berhenti,” jelasnya.
Berkat perencanaan matang, Trixi bisa menyelesaikan skripsinya sebelum mengikuti KKN.
“Waktu itu di semester 5 aku pulang dari Belanda, langsung seminar proposal, analisis data, dan revisi. Jadi pas selesai KKN, skripsinya juga sudah selesai tinggal tunggu nilai KKN untuk sidang,” terangnya.
Trixi menegaskan bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing.
“Aku di sini 3 tahun karena berbagai pertimbangan pribadi. Tidak semua orang harus seperti itu. Yang penting, setiap capaian punya tujuan dan makna, terutama untuk membanggakan orang tua,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












