
GUNUNGKIDUL, WARTA-JOGJA.COM – Bupati menyoroti isu pernikahan dini yang kian memprihatinkan. Setiap bulan sebanyak 40 siswa di Gunungkidul mengajukan dispensasi nikah. Ini merugikan masa depan mereka. Setelah menikah, banyak yang tidak siap menjadi orang tua, dan pasti anak menjadi korban.
Pasca isu pernikahan dini Bupati melakukan pembinaan terhadap sekolahan salah satunya SMK Negeri 3 Wonosari. Di hadapan para siswa-siswi ia memberikan suntikan semangat kepada para siswa agar terus berjuang menggapai cita-cita.
“Seperti kata Bung Karno, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau pun jatuh, kalian akan jatuh di antara bintang-bintang. Jangan jadi generasi yang mudah menyerah. Saya sendiri lulusan SMK, dan siapa bilang lulusan SMK tidak bisa menjadi pemimpin?” ucap Bupati.
Bupati juga mengingatkan pentingnya kerja keras, keprihatinan, dan kedisiplinan. Ia menekankan bahwa perjuangan panjang akan melahirkan keberhasilan.
“Saya dulu sekolah jalan kaki 14 kilometer. Tapi dengan semangat dan doa, semua bisa diraih. Jangan larut dalam gaya hidup dan media sosial, gunakan teknologi untuk kegiatan positif dan fokuslah pada tujuan,” tambahnya.
Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Wonosari, Dwi Retno Wahyuningsih dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Bupati dan menegaskan komitmen sekolah dalam mencetak generasi unggul.
“Hari ini sangat spesial karena Ibu Bupati hadir di tengah-tengah kami. SMK 3 memiliki lima konsentrasi keahlian, yaitu Teknik Audio Video, Kuliner, Elektronika Industri, Perhotelan, dan Mekatronika. Seluruh jurusan telah menghasilkan produk yang layak jual, dan siswa kami siap bekerja, melanjutkan studi, maupun berwirausaha,” ujar Kepala Sekolah.
Beliau juga menolak anggapan bahwa generasi muda saat ini adalah generasi ‘stroberi’.
“Kami tidak terima jika 1.180 siswa kami disebut generasi stroberi. Harapan kami mereka menjadi generasi intan yang bersinar dan siap mengubah dunia dengan keterampilannya,” tegasnya.









