
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran (APG) dalam dua hari terakhir. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas tersebut terjadi pada Selasa 10 Februari dan Rabu 11 Februari 2026.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengatakan awan panas guguran teramati pada Rabu 11 Februari 2026 pukul 17.05 WIB.
“Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi Selasa 11 Februari 2026 pukul 17.05 WIB, estimasi jarak luncur 1.500 meter dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 140,5 detik mengarah ke barat daya (hulu Kali Boyong),” ujar Agus dalam keterangannya hari ini 11 Februari 2026.
Sebelumnya, pada Selasa 10 Februari 2026 pukul 21.13 WIB, Merapi juga meluncurkan awan panas guguran.
“Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi Selasa 10/02/2026 pukul 21.13 WIB, estimasi jarak luncur 1.200 meter dengan amplitudo maksimum 43 mm dan durasi 121,7 detik mengarah ke barat daya (hulu Kali Krasak dan Kali Boyong),” jelas Agus.
Selain itu, kata dia, hujan juga terpantau mengguyur sejumlah lereng Merapi pada Rabu 11 Februari 2026. Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya lahar di sungai-sungai berhulu di puncak Merapi.
BPPTKG melaporkan hujan terjadi di lereng selatan mulai pukul 16.02 WIB dengan curah hujan 12 mm, durasi 12 menit, dan intensitas 59 mm/jam.
“Terjadi hujan di lereng selatan Gunung Merapi mulai pukul 16.02 WIB dengan curah hujan 12 mm, durasi 12 menit, dan intensitas 59 mm/jam. Hujan masih berlangsung saat ini, waspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta awan panas guguran di daerah potensi bahaya. Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya serta mematuhi rekomendasi,” tulis Badan Geologi dalam informasinya, Rabu 11 Februari 2026 pukul 16.20 WIB.
Lanjut Agus mengungkap bahwa hujan juga tercatat di lereng barat mulai pukul 16.09 WIB dengan curah hujan 2 mm, durasi 10 menit, dan intensitas 13 mm/jam.
“Terjadi hujan di lereng barat Gunung Merapi mulai pukul 16.09 WIB dengan curah hujan 2 mm, durasi 10 menit, dan intensitas 13 mm/jam. Hujan masih berlangsung saat ini, waspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta awan panas guguran di daerah potensi bahaya,” jelasnya.
Sementara itu, kata Agus, hujan di puncak Merapi mulai terjadi pukul 16.07 WIB dengan curah hujan 5 mm, durasi 12 menit, dan intensitas 27 mm/jam.
“Terjadi hujan di puncak Gunung Merapi mulai pukul 16.07 WIB dengan curah hujan 5 mm, durasi 12 menit, dan intensitas 27 mm/jam. Hujan masih berlangsung saat ini, waspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta awan panas guguran di daerah potensi bahaya. Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya serta mematuhi rekomendasi,” tulisnya.
Berdasarkan laporan periode pengamatan 11 Februari 2026 pukul 06.00 – 12.00 WIB, ujar Agus, Gunung Merapi yang berada di ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut, secara administratif berada di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, DIY, serta Jawa Tengah.
“Secara meteorologis, cuaca terpantau berawan hingga mendung dengan angin lemah ke arah timur. Suhu udara berkisar 23 – 24,9 derajat Celsius, kelembaban 74 – 74,3 persen, dan tekanan udara 874,5 – 917,2 mmHg. Secara visual, gunung tampak berkabut 0–II dan tidak teramati asap kawah,” urainya.
Adapun data kegempaan mencatat 28 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 – 5 mm dan durasi 43,7 – 192,67 detik. Selain itu, tercatat 23 gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2 – 36 mm, S-P 0,4 – 0,5 detik dan durasi 13,82 – 32,52 detik. Tiga gempa vulkanik dangkal juga terekam dengan amplitudo 23 – 80 mm dan durasi 14,86 – 18,6 detik.
Meski demikian, BPPTKG menyatakan tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, Agus menegaskan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.
“Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak,” katanya.
Ia juga menyebut suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Oleh karena itu. Ia kembali meminta masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
“Aabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” pungkas Agus.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












