
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Dinamika geopolitik yang bergejolak, ketidakpastian ekonomi global, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi oleh pelaku industri perhotelan dan pariwisata di seluruh dunia. Kondisi ini menuntut para pengambil keputusan untuk merumuskan strategi adaptasi yang tepat guna memastikan bisnis tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang.
Isu strategis tersebut menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Ikatan Hotel dan Restoran Indonesia (IHGMA) Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara yang digelar di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) pada Sabtu, 4 April 2026 ini mengusung tema besar “Hospitality Under Pressure: Strategi Bertahan dan Bertumbuh di Era Geopolitik dan Ekonomi Global”.
Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan Direktur Utama dan General Manager hotel terkemuka, perwakilan pemerintah daerah, akademisi dari lembaga pendidikan pariwisata, serta pengurus asosiasi hingga tingkat pusat.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah IHGMA DIY, Iwan Ridwan Munajat, menegaskan bahwa tekanan dari kondisi eksternal memang tidak dapat dihindari, namun dampaknya bisa diminimalisir melalui langkah-langkah yang terukur dan visioner. Menurutnya, tantangan saat ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga menyangkut efisiensi operasional internal.
“Kenaikan biaya operasional, gangguan rantai pasok terutama untuk kebutuhan vital seperti bahan bakar minyak, hingga penurunan daya beli masyarakat menjadi tantangan besar yang mempengaruhi kinerja industri. Di sinilah peran strategis seorang pemimpin untuk mengambil keputusan tepat agar bisnis tetap berjalan lancar di tengah situasi yang tidak menentu ini,” ujar Iwan dalam sambutannya.
Dalam sesi diskusi dan temu wicara yang berlangsung interaktif, para pemangku kepentingan menyepakati sejumlah strategi kunci yang krusial untuk diterapkan. Strategi tersebut meliputi pentingnya diversifikasi pasar agar tidak bergantung pada satu segmen wisatawan saja, optimalisasi penerapan teknologi untuk menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan pengalaman tamu, hingga pembangunan branding yang kuat melalui pelayanan khas dan standar kualitas tinggi.
Selain aspek bisnis, penerapan konsep keberlanjutan (sustainability) dan kepedulian lingkungan juga dinilai bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial, melainkan telah menjadi nilai tambah yang sangat diminati oleh pelanggan masa kini. Pengelolaan keuangan yang disiplin serta penyusunan skenario antisipasi risiko juga menjadi poin penting dalam manajemen perusahaan.
Lebih jauh, Iwan menekankan pentingnya sinergi melalui konsep Kolaborasi Lima Unsur. Kerja sama yang solid antara pemerintah, pelaku usaha, dunia pendidikan, masyarakat, dan media dipandang sebagai fondasi utama untuk membangun ekosistem pariwisata yang kokoh dan tangguh.
“Bentuk nyatanya bisa melalui penyusunan kampanye promosi bersama atau event gabungan, sehingga dampak positifnya dapat dirasakan secara luas dan menyeluruh,” tambahnya.
Melalui Rakerda ini, IHGMA DIY berkomitmen untuk terus menjadi wadah koordinasi dan berbagi pengetahuan. Dengan strategi yang tepat, diyakini industri perhotelan tidak hanya akan mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga mampu membuka peluang pertumbuhan baru yang lebih merata dan berkelanjutan, sehingga pariwisata Yogyakarta tetap bersinar di kancah nasional maupun internasional.
🌐 Penulis: Umar













