
Ketua RW 01 di lokasi Jembatan Kewek, Adi Kusuma (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Penutupan parsial Jembatan Kewek, Kali Code, Tegal Panggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, memicu penggunaan jalan alternatif yang berdampak langsung pada aktivitas warga sekitar, sejak hari ini 10 Desember 2025. Banyak pengendara memilih melewati Gang Hansip Karno Waluyo Ledok Tukangan sebagai jalan pintas, terutama kendaraan kecil seperti sepeda motor.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan penutupan parsial Jembatan Kewek sesuai skenario awal dan arahan dari Gubernur DIY. Penutupan ini hanya untuk kendaraan kecil dalam kondisi normal, sedangkan kendaraan over capacity akan dikondisikan saat Natal dan Tahun Baru.
“Sudah mendapatkan arahan dari Pak Gubernur Ngarsa Dalem untuk kemudian ini ditutup secara parsial yang boleh lewat kendaraan kecil dalam keadaan biasa, mungkin motor. Tapi nanti kalau over capacity, kita lihat situasional ketika malam tahun baru dan juga Natal bisa kita kondisikan,” ujarnya kepada awak media dilokasi.
Ia mengungkapkan bahwa jembatan di sebelah Jembatan Kewek yang putus menimbulkan risiko karena tanggul sudah ringkih. Sehingga, menurutnya, pemanfaatan minimal kendaraan kecil diarahkan melalui Jembatan Kewek.
“Jadi antisipasi yang kita lakukan, kita sudah memasang portal-portal di Kridososono supaya kendaraan yang tinggi besar sudah enggak ke sini,” jelasnya.
Lanjut Hasto menjelaskan, pihaknya juga mengatur lalu lintas sedikit hulu di depan Gramedia untuk mengurangi beban arus. Penutupan total baru akan dilakukan saat pembangunan dimulai, yang direncanakan tahun 2026.
“Kalau 2026, harapan saya bulan April sudah bisa dimulai,” katanyam
Sementara itu, Ketua RW 01 di lokasi Jembatan Kewek, Adi Kusuma, menyoroti dampak langsung bagi warga. Ia mengaku akan mengajukan audiensi ke Walikota jika terdapat pro – kontra dari masyarakat.
“Kalau memang ada kontra nanti kami akan sampaikan ke kelurahan, kecamatan dan mungkin lewat dari dewan yang mewakili Danurejan, nanti kita akan audiensi ke wali kota,” ujarnya.
Adi menyebut bahwa akses jalan alternatif yang banyak dilalui pengendara untuk menuju Malioboro dapat menimbulkan kepadatan di kampung mereka.
“Sepertinya nanti akan berimbas jadi lebih rame. Karena sampai sekarang aja kalau kita lihat baru satu jam mulai tapi orang luar udah banyak yang salah masuk. Jadi akhirnya lewat jalan alternatif kita mungkin akan berimbas ke kampung kita juga,” bebernya.
Adi menambahkan, selama ini Jembatan Kewek masuk wilayah RW – nya. Karena inilah menjadi tanggung jawab warga. Sehingga, ia berharap Pemkot Yogyakarta dapat merangkul warga untuk bersama-sama mengelola Jembatan Kewek agar operasionalnya berjalan lancar.
“Mungkin nanti kami berharap juga dari warga itu, untuk pemerintah atau Walikota itu bisa merangkul warga untuk menggarap Jembatan Kewek ini agar semua itu bisa berjalan lancar,” tuturnya.
Soal sosialisasi rekayasa lalu lintas, Adi mengaku mengetahui informasi dari media dan kelurahan, tetapi detailnya masih belum jelas.
“Kalau rekayasa (sosialisasi) ini sebenarnya (tahu) sudah dari media ya. Tapi kalau untuk lebih tepatnya kekelurahan juga hanya sebuah informasi saja sih, tapi kita belum tahu kelanjutannya seperti apa, detailnya belum tahu,” pungkas Adi.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








