WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Keluarga Besar Muhammadiyah Kapanewon Paliyan menggelar kajian rutin Ahad pagi pada Minggu, 27 September 2026, di Masjidul Qodimah, Kalurahan Karang Asem, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Ustadz H. Zamari hadir sebagai penceramah utama yang mengajak seluruh jamaah memanfaatkan sepenuhnya kesempatan yang ada sebelum keadaan berubah, serta mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu dan amal yang telah dilakukan.
Pesan inti penyampaiannya berpusat pada empat momentum emas kehidupan yang harus dioptimalkan: mumpung sehat sebelum sakit, mumpung muda sebelum tua, mumpung kaya sebelum miskin, dan mumpung luas sebelum sempit. Beliau menegaskan prinsip hidup yang efektif dan efisien agar setiap langkah serta amal yang dijalani tidak menjadi sia-sia di hadapan Allah SWT.
Empat Momentum Emas: Jangan Biarkan Kesempatan Terlewat
Ustadz H. Zamari mengingatkan bahwa waktu yang dimiliki setiap orang semakin berkurang seiring berjalannya masa – ibarat hitungan mundur dari seribu menjadi seratus, sepuluh, hingga satu. Karena itu, setiap kesempatan yang Allah berikan harus digunakan dengan sebaik-baiknya melalui amalan yang diridhai-Nya.
Empat momentum tersebut dirangkum dalam akronim yang mudah diingat:
– S – Sehat, sebelum sakit – Gunakan kondisi tubuh yang bugar untuk beribadah dan beramal saleh.
– M – Muda, sebelum tua – Manfaatkan kekuatan dan semangat masa muda untuk belajar, berbakti, dan menanamkan kebaikan.
– K – Kaya, sebelum miskin – Bagikan sebagian rezeki yang ada saat masih mampu, sebelum kemampuan itu berkurang atau hilang.
– S – Luas, sebelum sempit – Lakukan kebaikan saat peluang masih terbuka lebar, sebelum keadaan menyempit dan kesempatan tertutup.
Prinsip dasarnya tegas dan lugas: “Ojo nganti muspro” – jangan sampai usaha dan waktu yang telah dihabiskan menjadi sia-sia. Lakukan apa yang bermanfaat, tepat sasaran, dan tidak membuang tenaga serta waktu secara percuma.
Refleksi Diri: Melihat ke Dalam Seperti Berkaca
Kajian ini juga mengajak jamaah melakukan introspeksi diri yang mendalam. Refleksi diri diibaratkan sebagai cermin – pengilon – yang bukan sekadar berdiam diri, melainkan proses meneliti apa yang telah diperbuat, apa yang kurang, dan apa yang perlu diperbaiki ke depannya.
Penceramah menegaskan beberapa kebenaran hakiki:
– Segala sesuatu di dunia ini pada akhirnya akan berlalu; ada yang hilang tanpa jejak, ada yang meninggalkan manfaat abadi bagi sesama.
– Hanya mereka yang senantiasa berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah yang akan menemukan jalan yang benar dan lurus.
– Salah satu doa yang patut terus terucap: Rabbirhamni wa antarhamurrahim – Ya Tuhanku, sayangilah aku, Engkau Maha Penyayang.
Makna Penenang Hati dari Surat Ad-Dhuha dan Al-Insyirah
Dalam penyampaiannya, Ustadz H. Zamari mengupas makna mendalam dua surat Al-Qur’an yang saling melengkapi: Surat Ad-Dhuha dan Surat Al-Insyirah. Keduanya turun saat Nabi Muhammad ﷺ lama tidak menerima wahyu, merasa gelisah, dan diejek oleh kaum Quraisy yang menyatakan “setanmu sudah pergi.” Namun Allah SWT tidak membiarkan kekasih-Nya sendirian.
Firman-Nya dalam Surat Ad-Dhuha menyampaikan ketenangan yang mendalam:
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
Makna yang tersirat di dalamnya:
– Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, meskipun kita merasa sepi dan sendirian.
– Kesulitan itu sifatnya sementara; pertolongan Allah pasti datang pada waktunya.
– Kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal dibandingkan kehidupan dunia yang fana.
– Surat Ad-Dhuha mengawali penghiburan, dan Surat Al-Insyirah menyempurnakannya: setelah kesulitan pasti datang kemudahan.
Berdasarkan keterkaitan makna kedua surat tersebut, Ustadz H. Zamari menganjurkan jamaah membacanya dalam sholat Dhuha dengan urutan yang bermakna:
– Rakaat pertama → Surat Ad-Dhuha — menyimbolkan masa penantian dan kesulitan yang berakhir dengan kepastian kasih sayang Allah.
– Rakaat kedua → Surat Al-Insyirah — menyimbolkan datangnya kemudahan dan kelapangan hati setelah beban yang dirasakan berat.
Urutan ini mengandung pesan utuh: setelah masa sulit dan penantian, datanglah pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT.
Kajian ditutup dengan ajakan yang menyentuh hati untuk kembali merenungkan pesan-pesan bijak tersebut:
-Mumpung sehat – gunakan untuk beramal
-Mumpung muda – gunakan untuk belajar dan berbakti
-Mumpung kaya – gunakan untuk berbagi dan kebaikan
-Mumpung hidup – gunakan untuk beribadah dan ketaatan
Semoga seluruh jamaah termasuk golongan yang bijaksana, mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan agama.

Redaktur: Mawan

