
🌐 YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan inovasi digital untuk membantu anak-anak penyandang cerebral palsy dan keterlambatan bicara. Melalui aplikasi edukatif bernama “Kata Kita”, mereka menghadirkan metode belajar berbicara yang dikemas dalam bentuk permainan interaktif dan menyenangkan.
Aplikasi ini dikembangkan oleh Muhammad Zufar Syafiq dan Muhammad Haidar Syafiq dari Fakultas Teknik Informatika, bersama Kesha dari Fakultas Psikologi, serta Nabila Samna Haki (Abing) dari Fakultas Ilmu Budaya. Proyek ini digarap berkolaborasi dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Yogyakarta, komunitas yang menaungi orang tua dan anak penyandang cerebral palsy.
Menurut Zufar, ide pembuatan aplikasi muncul setelah timnya melakukan observasi langsung ke komunitas WKCP. Dari hasil pengamatan, mereka menemukan fakta bahwa sebagian besar anak cerebral palsy mengalami hambatan signifikan dalam berbicara.
“Sekitar 75 persen anak penyandang cerebral palsy tidak bisa berbicara sama sekali, sementara sisanya mengalami keterlambatan bicara ringan hingga sedang,” ungkap Zufar kepada wartawan saat memamparkan di Kampus UGM, Jumat 10 Oktober 2025.
Kami melihat banyak orang tua kesulitan mengakses terapi karena keterbatasan ekonomi dan mobilitas. Media terapi yang ada juga cenderung monoton, jadi anak cepat bosan,” sambungnya.
Berangkat dari kondisi itu, tim UGM berupaya menciptakan solusi berbasis teknologi yang tidak hanya mendukung terapi bicara, tetapi juga membuat proses belajar terasa seperti bermain. Dalam “Kata Kita”, anak-anak diajak berpetualang bersama tokoh utama bernama Budi, seorang anak dengan speech delay. Budi harus mengumpulkan “buku resep” di berbagai level permainan mulai dari peternakan, kebun, hingga dapur untuk mengembalikan kemampuan bicaranya. Di setiap level, anak diminta menyebutkan kosakata tertentu, seperti “bawang” atau “apel”. Suara anak kemudian dideteksi oleh sistem untuk menilai ketepatan pelafalan.
“Kalau anak salah ucap, sistem tidak langsung menegur. Akan muncul pesan afirmatif seperti ‘Wah, kamu sudah hebat!’ supaya anak tetap semangat,” jelas Zufar.
“Pendekatan positif ini penting karena banyak anak dengan gangguan bicara sensitif terhadap koreksi keras,” ucapnya.
Selain itu, ujar Muhammad Haidar Syafiq, turut menyampaikan bahwa “Kata Kita” juga dilengkapi dengan fitur Augmented Reality (AR) berupa kartu interaktif. Setelah menyelesaikan satu level permainan, anak akan mendapat kartu hadiah yang bisa dipindai menggunakan kamera untuk menampilkan gambar 3D dari benda yang dipelajari.
“Kartu AR ini membuat anak tidak cepat bosan. Setelah belajar bicara, mereka bisa bermain sambil melihat gambar hewan atau benda muncul di layar,” ujar Haidar.
Zufar menambahkan, aplikasi ini juga menyediakan dashboard pemantauan untuk orang tua melalui website khusus. Dari sana, orang tua dapat melihat perkembangan anak, seperti daftar kata yang sudah diucapkan, tingkat akurasi, hingga ringkasan hasil latihan. Sistem analisis data di situs tersebut bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan Google Gemini AI untuk menyajikan laporan dan insight perkembangan anak secara otomatis.
“Fitur AI ini bukan untuk menggantikan peran terapis profesional, tapi sebagai alat bantu agar orang tua bisa mendampingi latihan di rumah,” imbuh Zufar.
Sebelum diluncurkan, “Kata Kita” telah melalui tahap validasi oleh Ikatan Terapis Wicara Indonesia (Ikat Dwi) DIY dan dosen pembimbing dari Fakultas Psikologi UGM, Elga Ndriana.
🔵 Disambut Baik Para Orang Tua
Respons dari orang tua pengguna pun disebut sangat positif. Banyak yang melaporkan anak mereka lebih termotivasi berlatih bicara karena pendekatan permainan yang ringan dan tidak menegangkan.
“Kami melihat dari data website, banyak orang tua yang membuka aplikasi di luar jadwal pelatihan resmi. Artinya mereka merasa terbantu dan menikmati prosesnya,” ujar Zufar.
Ke depan, tim pengembang berharap aplikasi ini bisa dikembangkan lebih luas dengan dukungan para profesional terapi wicara.
“Harapan kami, ‘Kata Kita’ bisa menjadi jembatan bagi anak-anak untuk belajar bicara dengan cara yang menyenangkan dan didampingi orang tuanya di rumah,” pungkas Zufar.

🔴 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












