
🌐 YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus memperketat penertiban terhadap keberadaan becak motor (bentor) yang dinilai sudah melebihi kapasitas dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan di ruang publik. Selain soal keamanan konsumen, jumlah bentor yang kian meningkat juga dinilai mengganggu keteraturan lalu lintas, terutama di kawasan wisata seperti Malioboro.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan upaya penertiban ini bukan berarti menghapus mata pencaharian para pengemudi bentor, melainkan bentuk penataan agar keberadaannya lebih tertib dan sesuai kebutuhan.
“Bukan berarti kita ingin menghilangkan pekerjaan mereka, tapi menata. Penataan ini bisa dari sisi moda, layanan, maupun jumlahnya. Kalau sudah terlalu banyak, tentu menimbulkan ketidaknyamanan dan semrawut,” ujar Made di Bangsal Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (10/10/2025).
Made mengungkapkan, berdasarkan pendataan terakhir pada masa pandemi COVID-19, jumlah bentor di DIY mencapai sekitar 2.000 unit, dan kemungkinan besar kini jumlahnya meningkat. Menurutnya, kondisi ini membuat sejumlah kawasan, terutama yang menjadi destinasi wisata, memerlukan pengaturan lebih ketat.
“Setiap kawasan punya kapasitas, termasuk untuk becak. Di Malioboro, misalnya, selain bentor masih ada becak kayuh dan becak kayuh bertenaga alternatif. Karena itu, perlu ada keseimbangan agar kawasan tetap nyaman bagi warga dan wisatawan,” jelasnya.
Sebagai solusi, Pemda DIY telah mengembangkan becak kayuh bertenaga alternatif sebagai pengganti bentor. Hingga saat ini, tercatat sudah ada sekitar 90 unit becak jenis tersebut yang beroperasi di wilayah DIY.
“Kami sudah berusaha sejak 2020 untuk menghadirkan becak yang tetap dikayuh tapi tidak membuat pengemudinya kelelahan. Namun pengadaan ini tentu bertahap, tidak bisa serta-merta. Dan yang penting, berkurangnya bentor bukan berarti jumlahnya boleh ditambah,” tegas Made.
Kendati demikian, Pemda DIY juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta sejumlah pihak internasional yang memiliki perhatian terhadap Low Emission Zone (LEZ) untuk mendukung penambahan armada becak kayuh bertenaga alternatif.
“Kami sudah mengajukan bantuan dan menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang bisa membantu agar jumlah becak bertenaga alternatif ini bisa terus ditingkatkan,” pungkas Made.

🔴 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







