
Acara Sadranan berlangsung di tengah hutan Wonosadi yang terletak di Padukuhan Duren, Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul (foto Dwi Agustina Reporter warta-jogja.com 29 Mei 2025)
GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Berada di tengah hutan Wonosadi (lembah Ngenuman) seluas 25 hektar yang terletak di Padukuhan Duren, Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, warga masyarakat menggelar acara sakral Sadranan, pada Kamis Legi (29/05/2025).
Masyarakat Kalurahan Beji dari berbagai elemen berdatangan di tengah hutan Wonosadi dengan membawa makanan yang dibungkus dengan daun pisang diikat dengan daun kelapa, kemudian dikumpulkan disitu.
Sebelum diadakan acara makan bersama atau kembul bujono diadakanlah acara sakral yaitu berdo’a bersama memohon kepada Maha Kuasa yang dipimpin oleh seorang juru kunci.

Setelah selesai berdo’a bersama mereka mengadakan acara makan bersama (kembul bujono). Dari sini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menyaksikan acara nyadran berlangsung.
Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali ini merupakan bentuk pelestarian adat dan budaya dari nenek moyang secara turun temurun sebagai wujud rasa puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kenikmatan, keberkahan dari hasil panen yang berlimpah.

Masyarakat sekitar meyakini bahwa upacara ini memiliki makna yang sangat dalam dan penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.
Alasan utama upacara ini tetap dilaksanakan setiap tahunnya adalah untuk melestarikan adat dan budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Kalurahan Beji. Dengan melaksanakan upacara ini, masyarakat dapat memperkuat hubungan dengan leluhur dan alam sekitar.

Upacara sakral ini juga menjadi simbol kesatuan dan kebersamaan masyarakat Kalurahan Beji, dengan demikian, upacara sakral di Hutan Adat Wonosadi menjadi salah satu contoh nyata dari upaya pelestarian adat dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Kalurahan Beji.
Menurut sejarah yang berkembang hutan Wonosadi dulunya merupakan pertapaan atau petilasan serta tempat persembunyian Eyang Onggoloco, salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Sampai sekarang menjadi bagian kearifan lokal yang menyimpan sejarah besar secara turun temurun masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

Redaktur Mawan







