
WARTA-JOGJA.COM, BOYOLALI, JATENG – Kabupaten Boyolali memiliki sejarah panjang dalam budidaya kopi. Tanaman kopi mulai diperkenalkan di wilayah Boyolali sekitar awal abad ke-19, sekitar tahun 1815, ketika seorang pengusaha perkebunan Belanda, Johannes Augustinus Dezentje, membuka perkebunan kopi di daerah Ampel dan kawasan lereng Gunung Merapi serta Gunung Merbabu.
Perkebunan tersebut berkembang hingga sekitar 1.275 hektare dan menjadikan Ampel sebagai salah satu pusat perkebunan kopi penting di wilayah Vorstenlanden pada masa Hindia Belanda. Sejarah ini menunjukkan bahwa kopi sebenarnya bukan komoditas baru bagi masyarakat Boyolali.
Bupati Boyolali Agus Irawan mengatakan sejarah panjang kopi di boyolali patut kita lestarikan dan dengan bantuan bibit ini harapan nya bisa menjadi salah satu potensi ekonomi bagi masyarakat kedepannya dan kopi menjadi salah satu andalan pertanian di boyolali.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Boyolali Suyanta S.P M.M menerangkan langkah nyata boyolali menuju kota kopi kita lakukan sosialisasi ke masyarakat,pemberian bibit kopi, penanaman, pendampingan serta jaminan offtaker hasil dari panen kopi pemberian 500 rb batang bibit kopiSetara dengan 500 ha Ini sinergi dengan kementan RI,
Saat ini, potensi kopi Boyolali kembali dilirik sebagai komoditas unggulan daerah. Kondisi geografis Boyolali yang berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar
800–1.500 meter di atas permukaan laut, suhu yang sejuk, serta tanah vulkanik yang subur sangat mendukung pengembangan tanaman kopi, khususnya Coffea arabica di dataran tinggi dan Coffea canephora di wilayah yang lebih rendah. Beberapa kecamatan seperti Selo, Cepogo, Musuk, Ampel, dan Gladagsari menjadi wilayah yang memiliki potensi besar untuk pengembangan kopi.
Seiring meningkatnya tren konsumsi kopi lokal dan berkembangnya industri kopi di Indonesia, peluang pengembangan kopi Boyolali semakin terbuka. Kopi tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari agrowisata di kawasan lereng Merapi–Merbabu, sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Ke depan, pengembangan kopi di Boyolali diarahkan secara terencana dari hulu hingga hilir, mulai dari perluasan areal tanam, peningkatan kualitas budidaya, hingga penguatan pengolahan pascapanen.
Pendirian unit pengolahan atau industri roasting kopi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sehingga hasil panen petani tidak hanya dijual dalam bentuk biji mentah.
Sejalan dengan visi dan misi pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Boyolali telah menetapkan pengembangan kopi sebagai salah satu kebijakan strategis. Saat ini telah dikembangkan kawasan kopi seluas sekitar 500 hektar di wilayah lereng Merapi dan Merbabu, disertai dengan program pendampingan petani melalui pelatihan budidaya, penggunaan bibit unggul, serta peningkatan kualitas pascapanen.
Selain itu, juga direncanakan pendirian industri pengolahan kopi oleh PT Tunas Wijaya Nusantara di Boyolali yang diharapkan menjadi penggerak pengolahan dan pemasaran kopi lokal. Dengan dukungan pemerintah daerah, partisipasi petani, serta keterlibatan pelaku usaha, kopi Boyolali diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus memperkuat identitas Boyolali sebagai salah satu sentra kopi yang berkembang di Jawa Tengah.
🔶️ Penulis
🌐 Redaktur: Mawan








