
WARTA-JOGJA.COM, SLEMAN, DIY – Ratusan siswa di wilayah Mlati, Kabupaten Sleman, DIY, diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis 23 Oktober 2025. Salah satu sekolah yang terdampak yakni SMP Negeri 2 Mlati, dimana lebih dari separuh siswanya mengalami gejala serupa usai makan menu yang terdiri dari opor ayam dan tahu balado.
Kepala SMP Negeri 2 Mlati, Isnan Abadi, membenarkan bahwa banyak siswa dan guru merasakan gejala mual dan diare setelah makan dari paket MBG yang diterima di sekolah.
“Total siswa kami ada 470, dan yang merasakan gejala sekitar 200-an orang. Hampir 50 persen,” ujar Isnan saat ditemui awak media di sekolahnya, Jumat 24 Oktober 2025.
“Selain siswa, ada tujuh guru yang juga mengalami keluhan serupa,” katanya.
Isnan menjelaskan, makanan MBG disekolahnya tersebut biasanya dikirim ke sekolah sekitar pukul 10.30 WIB atau 11.00 WIB. Menu yang diterima pada hari kejadian adalah nasi, opor ayam, tahu balado, acar, dan buah anggur. Menurutnya, sebagian siswa tidak terdampak karena tidak sempat makan makanan tersebut.
“Ada yang tidak makan karena belum sempat setelah salat, ada juga yang memang kondisi tubuhnya lebih kuat,” katanya.
Kini, pihak sekolah masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat terkait kelanjutan program MBG di sekolah.
“Itu nanti tergantung kebijakan dari Kapanewon, Dandim, maupun pihak yang berkerja sama dalam program ini,” jelas Isnan.
Menurut Isnan, hingga Jumat siang, pada kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 2 Mlati masih berjalan normal, namun sejumlah siswa yang masih mengalami gejala diarahkan untuk beristirahat atau menjalani pemeriksaan di puskesmas.
Orang Tua Minta MBG Dihentikan
Sementara itu, salah satu orang tua siswa, Enah, yang anaknya mengalami gejala keracunan, berharap program MBG dievaluasi dan dihentikan sementara waktu.
“Anak saya kelas 7. Semalam ngerasa sudah sakit perut dan diare, saya kira cuma masuk angin. Ternyata banyak yang mengalami hal sama,” ucapnya saat ditemui di Puskesmas 1 Mlati, tempat anaknya dirujuk, Jumat 24 Oktober 2025.
“Rasanya katanya dari ayamnya agak berbeda, mungkin karena santan. Saya berharap program MBG ini dihentikan dulu sementara, biar orang tua tenang,” pinta Enah.
Enah menilai koordinasi antara sekolah dan pihak penyedia MBG perlu diperbaiki.
“Selama ini orang tua belum pernah diajak memantau langsung ke SPPG (Sentra Pengolahan Pangan Gizi). Kalau sementara diberhentikan dulu juga tidak apa-apa, biar ada evaluasi,” ujarnya.

🔷️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN






