WARTA-JOGJA.COM || GUNUNGKIDUL, DIY – Kelompok Ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pedukuhan Nglaran, RT 01/RW 11, Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, memanfaatkan akhir pekan untuk melestarikan kesenian tradisional toklik atau kentongan. Kegiatan latihan rutin yang digelar setiap Sabtu malam atau malam Minggu ini tidak hanya menjadi sarana mempererat silaturahmi warga, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap seni budaya Jawa.
Latihan kesenian toklik tersebut dipimpin langsung oleh Sari Samsilowati, istri Ketua RW setempat. Kegiatan ini berawal dari obrolan sejumlah ibu PKK yang ingin mengisi waktu luang dengan aktivitas positif, sekaligus menjadi sarana rekreasi setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama sepekan.
Menurut Sari Samsilowati, kegiatan tersebut sengaja dijadwalkan setiap akhir pekan agar warga memiliki ruang untuk berkumpul, bersosialisasi, dan bersama-sama menjaga keberlangsungan kesenian tradisional.
Selain memainkan kentongan, kelompok ini memadukan irama musik dengan tembang-tembang Jawa dan seni tari. Perpaduan tersebut diharapkan mampu menghadirkan pertunjukan yang menarik sekaligus memperkenalkan kesenian rakyat kepada masyarakat.
Ia menilai, kesenian toklik merupakan warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Dari kegiatan sederhana tersebut, para ibu PKK berharap tumbuh semangat kebersamaan dan kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan seni tradisional, khususnya di wilayah Pedukuhan Nglaran.
Kesenian toklik merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang memanfaatkan kentongan berbahan bambu sebagai alat musik utama. Dalam perkembangannya, kesenian ini dikolaborasikan dengan tembang atau nyanyian, tarian, serta berbagai instrumen musik lain, seperti gamelan dan kendang.
Perpaduan berbagai instrumen tersebut menghasilkan irama yang lebih beragam untuk mengiringi lantunan suara para penembang. Pengembangan ini menjadikan kesenian toklik tidak hanya sebagai permainan kentongan, tetapi juga sebagai pertunjukan seni yang memadukan unsur musik, vokal, dan tari.
Bagi kelompok ibu PKK Pedukuhan Nglaran RT 01, kesenian toklik memiliki nilai budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, mereka memandang penting upaya memperkenalkan dan mengembangkan kesenian tersebut di lingkungan tempat tinggal mereka.
Melalui latihan rutin, warga berharap kesenian toklik dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Nglaran. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian budaya Jawa, khususnya di Kabupaten Gunungkidul.
Ketua RT setempat, Sutarno, membenarkan kegiatan yang dilakukan warga yang tergabung dalam kelompok kesenian toklik tersebut. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya warga dalam mengembangkan kegiatan seni tradisional di lingkungannya.
Sularto juga menyampaikan harapannya agar masyarakat terus menjaga warisan budaya leluhur melalui berbagai kegiatan kesenian yang tumbuh di lingkungan masing-masing.
“Marilah kita lestarikan budaya peninggalan nenek moyang kita dalam bentuk apa pun di wilayah Gunungkidul ini, dan terkhusus kepada masyarakat Nglaran semoga kegiatan yang sangat positif ini terus akan berlangsung sehingga di kampung yang kita cintai ini mampu memiliki para pelaku budaya kesenian rakyat salah satunya seperti kesenian toklik saat ini,” ungkapnya.
Kegiatan kelompok ibu PKK Pedukuhan Nglaran ini menjadi salah satu contoh inisiatif masyarakat dalam menghidupkan seni tradisional dari lingkungan terkecil. Dengan latihan rutin dan dukungan warga, kesenian toklik diharapkan terus berkembang serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Redaktur: Mawan

