
Amien Rais dan sejumlah orang menggeruduk UGM untuk mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi, Selasa (15/4/2025). Foto: Olivia Rianjani (warta-jogja.com).
SLEMAN,DIY || WARTA-JOGJA.COM – Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Amien Rais ikut dalam aksi mendatangi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa, 15 April 2025. Ia bahkan menuduh universitas ini menjadi keset politik mantan presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Saya warga UGM, profesor dari UGM, pernah menjadi Ketua Majelis Wali Amanat Lima tahun konsern dan prihatin UGM yang kita banggakan tiba-tiba menjadi alas keset seseorang, kita sudah tau semua siapa (Jokowi). Jadi ini momentum yang sangat penting. Kalau saya yakin memang ijazahnya itu tidak ada. Kalau ijazah oplosan, memang dibuat, tapi sudah dikatakan oleh para ahli, itu jelas maaf abal-abal,” kata Amien saat ditemui di Fakultas Kehutanan UGM, Selasa, 15 April 2025.
“Sejujurnya ini berhubungan untuk ketulusan dan kejujuran. Jadi kalau UGM dengan jujur memang kita punya pressure politik dari kekuasaan yang menyebabkan kita tidak bisa berbuat lain kecuali sesuai dengan pesan kekuasaan. Pesan itu ya sudah selesai gitu. Case is closed,” tambah Amien.
Ada pun kemudian konsekuensi hukum untuk yang memalsukan ijazah menurut Amien, apakah kemudian dimaafkan atau diberi peringatan, dihukum apa adanya, tidak perlu berlebihan.

“Tapi penting sekali untuk menjadi pelajaran supaya siapapun yang berbuat crime dalam bentuk masalah-masalah itu diberikan hukuman sepadan,” kata Amien.
“Kita enggak minta harus dihukum berlebihan lah ya. Paling enggak bangsa ini terus ya the show must go on. Jadi tugas-tugas kebangsaan kita harus berjalan ke depan. Nah ini sesuatu yang mengganjal, sudahlah diberikan hukuman ala kadarnya.
Saat ditanya wartawan, bukannya UGM sudah banyak menjelaskan tentang ijazah Jokowi, ia menjawab,
“Ya, tapi kan enggak ada buktinya. Saya dulu, dua tahun yang lalu, pernah memberikan solusi simpel sekali. Jadi kalau Presiden Jokowi sebagai Presiden, turun ke PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat bawa ijazahnya, ini loh ijazah saya, sudah selesai. Tapi ini bertele-tele, puter-puter. Jadi saya ingin di tengah saja lah, bagaimana supaya ini bangsa kita sudah ada dua kubu, ini berbahaya lah,” tambah Amien.
Tifauzia Tiasuma meminta UGM untuk bersikap netral. Ia meminta UGM tidak menjadi tameng siapapun.

“Jadi UGM itu harus juga melihat bahwa kita ini para paneliti itu ingin menjaga marwah UGM dan menjaga marwah Indonesia atas hal-hal yang ditanyakan oleh rakyat,” kata Tifauzia.
“Sayangnya tadi pas pertemuan tidak diberikan data apapun. Padahal itu yang seharusnya kita butuhkan. Karena kita nanti bisa menjadi kepanjangan mulut dari UGM. Bahwa UGM memberikan kepada kami dokumen-dokumen dan itu habis deadlock sampai terakhir akhirnya skripsinya dikeluarkan,” ia mengatakan.
Ia justru meminta UGM untuk merangkul para aktivis yang mendatangi kampus itu. Karena sebenarnya bukan orang yang berlawanan dengan UGM.
“Jadi saya mendorong UGM, UGM harusnya merangkul kami, bukan berlawanan dengan kami. Kami ini para peneliti lulusan UGM semua yang punya kredibilitas tinggi. Jadi kalau memang UGM tahu, bersama dengan rakyat, sebagai universitas rakyat, UGM bersama dengan kami bukan bersama dengan orang yang sekarang ini sedang kita permasalahkan gitu,” kata Tifa.

REDAKTUR MAWAN








